Home / Headlines / Kilau Perak dari Kotagede

Kilau Perak dari Kotagede

Kotagede merupakan sebuah daerah di Yogyakarta yang sudah sejak lama terkenal akan kerajinan peraknya. Hingga kini, industri kerajinan perak Kotagede tetap memiliki keistimewaan tersendiri.

Kerajinan perak Kotagede menjadi salah satu ciri khas yang ditawarkan kepada wisatawan yang melancong ke Yogyakarta. Bahan perak diolah dan didesain hingga tercipta kerajinan perak dengan beragam bentuk, mulai dari perhiasan cincin, gelang, kalung, hiasan rumah, alat-alat rumah tangga, dan sebagainya.

Salah satu perajin perak Kotagede, Marsudi Hartono, memiliki merek dagang MH Silver 925. Di tangan Marsudi, MH Silver berkembang menjadi salah satu usaha kerajinan perak dan logam yang dipercaya di wilayah Yogyakarta. “Meskipun berpusat di wilayah Yogyakarta, kami bisa menerima pemesanan kerajinan dari wilayah luar Yogya,” ucapnya.

MH Silver, lanjut Marsudi, memproduksi aneka kerajinan dari perak. “Kami bergerak dalam pembuatan aksesori, seperti cincin, gelang, kalung, bros, anting, dan giwang. Selain itu, kami juga membuat berbagai macam suvenir, seperti pisau surat, miniatur becak, Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan hiasan dinding,” jelasnya.

Kembali Bangkit dari Kegagalan

Marsudi mengisahkan, keahlian membuat kerajinan perak ini didapat secara turun-temurun dari orang tuanya. Namun dalam perjalanannya, pada tahun 1989 usaha kerajinan perak yang ia jalani mengalami penurunan. Ia pun banting setir dengan berjualan sandal dan sepatu di pasar. “Karena saat itu permintaan kerajinan perak sedang menurun, saya dan keluarga mencoba untuk berjualan sandal dan sepatu di pasar,” kenangnya.

Di kios sandal miliknya itu, ia sering berkumpul dengan teman-temannya yang belum memiliki pekerjaan. Marsudi turut prihatin melihat kondisi mereka yang tidak memiliki pekerjaan yang jelas. Lalu, timbul niatnya untuk mengajak mereka kembali menekuni usaha kerajinan peraknya yang sempat terhenti. Kebetulan, waktu itu ia masih menyimpan sedikit bahan perak yang belum terpakai.

Ia pun memberikan bahan perak tersebut kepada teman-temannya untuk dibuatkan cincin, kalung, dan gelang. Setelah jadi, produk kerajinan tersebut ia beli. “Mereka saya berikan bahan perak untuk dibuatkan kerajinan perak. Lalu, produk mereka diserahkan ke saya lagi. Lalu, saya berikan mereka ongkos pembuatannya,” tuturnya.



Marsudi mengakui, awalnya tidak mudah mengajak teman-temannya untuk mau menjadi perajin perak. Namun, ia tidak putus asa sampai akhirnya mereka tertarik. “Mula-mula mereka tidak mau, tapi saya jelaskan besarnya peluang usaha kerajinan perak ini. Mereka pun berminat,” imbuhnya.

Lantas, ia pun menjual produk kerajinan perak buatan teman-temannya itu ke toko-toko kerajinan dan sebagian lagi dititipkan ke pedagang di pasar. Perlahan-lahan, usaha kerajinan perak Marsudi berkembang. Teman-temannya pun semakin giat. “Tidak terasa, modal satu kilo bahan perak yang saya miliki dulu, sekarang bisa sampai puluhan kilo,” kenangnya.

Setelah kembali memulai usaha di tahun 1990, permintaan terhadap produknya semakin meningkat, khususnya untuk jenis kerajinan perak berupa gelang, cincin, hiasan dinding dan miniatur. Kerajinan peraknya diproduksi dengan peralatan manual dan mesin, serta dikerjakan oleh teman-temannya yang telah diberi pelatihan. “Jumlah tenaga kerja kami hanya sekitar 15 orang, dan mayoritas ialah teman-teman saya yang sudah diberi pelatihan,” katanya.

Marsudi mengatakan, upaya untuk memperluas pasar kerajinan perak hingga ke luar daerah juga ia lakukan. Kini, produk kerajinan perak Kotagede mampu menembus Bali yang menjadi daerah tujuan wisata turis mancanegara.

Marsudi menambahkan, ia menerima order dari para pembeli di Bali setiap bulan. Sebagian besar barang kerajinan perak yang dijual ialah perhiasan, aksesori, viligri, dan ukiran. “Dalam satu bulan, barang kerajinan yang terjual sebanyak 15 hingga 30 jenis,” katanya.

Marsudi kenal dengan BANK BRI saat sosialisasi pembiayaan oleh bank di Bale Raos di Keraton Yogyakarta. Waktu itu, ia ditawari pinjaman untuk pengembangan usahanya. “BANK BRI menawari pinjaman KUR. Saya katakan, kalau bisa cair 2 sampai 3 hari, saya akan pinjam. Ternyata bisa,” imbuhnya.

Pinjaman pertamanya digunakan untuk mengembangkan usaha. Setelah lunas, ia pinjam kembali untuk menambah modal. “Alhamdulillah pinjaman pertama sudah saya lunasi. Sekarang saya pinjam lagi,” papar Marsudi.

Marsudi mengaku senang menjadi mitra binaan BANK BRI. Selain mendapat kesempatan untuk mengikuti pameran, ia juga mendapatkan kemudahan dalam mengajukan pinjaman. “Saya senang karena prosedur pengajuan pinjamannya tidak berbelit-belit. Bahkan, proses pencairannya juga tidak lama,” terangnya.

About eddy Purwanto

Check Also

Kerjasama Antar Lembaga Penting Bagi Kemajuan ASEPHI

Sebagai wadah perajin dan pengusaha produk kratif kerajinan Indonesia, maka sudah saatnya ASEPHI bekerja lebih …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: