13747422 - angklung, traditional music instrument from indonesia, handmade made from bamboo

Angklung, Merdunya Irama dari Bilah Bambu

Angklung bisa dimainkan sendiri, tetapi hanya menghasilkan satu nada suara. Namun ketika dimainkan secara berkelompok dengan keberagaman nada yang berbeda dan mengikuti not, angklung akan menghasilkan harmoni suara yang indah.

Alat musik yang berasal dari Jawa Barat ini terbuat dari beberapa pipa bambu dengan berbagai ukuran yang dilekatkan pada sebuah bingkai bambu. Angklung dibuat dari bambu hitam dan bambu putih. Tiap nada dihasilkan dari bunyi tabung bambu yang berbentuk bilah di setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Kata “angklung” berasal dari bahasa Sunda, yakni “angkleung-angkleung” yang berarti diapung-apung dan “klung” sebagai suara yang dihasilkan angklung. Angklung berarti suara “klung” yang dihasilkan dengan mengapung-apungkan alat musik ini. Teori lain mengatakan angklung berasal dari bahasa Bali, yakni “angka” yang berarti nada dan “lung” yang artinya hilang sehingga angklung diartikan sebagai nada yang hilang.

Angklung dibunyikan dengan digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran. Setiap satu angklung menghasilkan satu nada. Ukuran angklung yang berbeda ini menghasilkan nada yang berbeda pula, sehingga dibutuhkan beberapa pemain untuk menghasilkan melodi. Seorang pemain angklung dapat memainkan 2 atau 3 buah angklung.

Sejarah Angklung
Pada abad ke-12 sampai abad ke 16, terdapat Kerajaan Sunda di Nusantara yang diperkirakan sebagai awal dari sejarah angklung. Saat itu, rakyat dari Kerajaan Sunda memercayai permainan angklung dapat menyenangkan Nyai Sri Pohaci yang dipercaya sebagai dewi kesuburan bagi rakyat Kerajaan Sunda. Nyai Sri Pohaci yang terpikat dengan alunan angklung akan turun dan membuat tanah para rakyat menjadi subur.



Selain itu, angklung juga dapat membangkitkan semangat para prajurit yang berperang. Karena itu, pemerintah Hindia Belanda pernah melarang alat musik ini untuk dimainkan. Larangan keras dari pemerintah Hindia Belanda membuat popularitas angklung menurun. Angklung tertua yang disebut Angklung Gubrag dibuat di Jasinga, Bogor, dan usianya telah mencapai 400 tahun. Kini, angklung tersebut disimpan di Museum Sri Baduga, Bandung.

Jenis-Jenis Angklung
Angklung juga memiliki beberapa jenis dengan nada yang berbeda. Angklung kanekes sering dikenal sebagai angklung Badui yang digunakan untuk upacara menanam padi. Angklung ini tidak hanya sebatas media hiburan, tetapi juga terdapat nilai magis tertentu. Angklung gubrag yang berasal dari Kampung Cipining, Kecamatan Cigudeg, digunakan untuk menghormati Dewi Padi yang diyakini memberikan berkahnya bagi kesuburan tanaman padi penduduk.

Angklung dogdog lonjor berasal dari masyarakat Banten Selatan di daerah Gunung Halimun. Angklung ini digunakan pada upacara Seren Taun untuk menghormati Dewi Padi karena panen berlimpah. Angklung badeng berfungsi sebagai hiburan dan media dakwah penyebaran Islam. Namun di Garut tepatnya di Kecamatan Malangbong, angklung ini berhubungan dengan ritual padi. Sementara itu, angklung buncis dipakai sebagai media hiburan, tetapi awalnya juga dipakai pada acara ritual pertanian yang berhubungan dengan tanaman padi.

Perkembangan Angklung
Seiring berjalannya waktu, angklung tidak hanya dikenal di Nusantara, tetapi juga merambah ke berbagai negara di Asia. Pada awal abad ke-20, Thailand mengadopsi angklung sebagai misi kebudayaan antara Thailand dan Indonesia. Selanjutnya, Daeng Soetigna menciptakan angklung yang didasarkan pada skala suara diatonik pada akhir abad ke-20. Setelah bisa dimainkan dengan berbagai alat musik lainnya, angklung digunakan di dalam bisnis hiburan.

Pada 1966, Udjo Ngalagena, siswa dari Tuan Daeng Soetigna, mengembangkan angklung berdasarkan skala suara alat musik Sunda, yaitu salendro, pelog, dan madenda. Ia juga mulai merintis pembangunan Saung Angklung Udjo sebagai tempat pelestarian serta pendidikan angklung dan budaya sunda di Indonesia. Hingga kini, Saung Angklung Udjo menjadi tujuan wisata budaya karena memiliki arena pertunjukan, pusat kerajinan bambu, dan workshop untuk alat musik bambu.
Angklung Diakui Dunia

Pada 2008, terdapat 11.000 pemain angklung di Jakarta dan 5.000 pemain angklung di Washington DC yang memecahkan rekor terbaru saat itu. Sejak November 2010, UNESCO mencatat angklung sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia. Selanjutnya, tanggal 16 November ditetapkan sebagai hari angklung sedunia. Dalam Konferensi Asia-Afrika pada April 2015, 20.704 orang berkumpul di Stadion Siliwangi Bandung untuk memainkan lagu “I Will Survive” dan “We Are The World” dengan menggunakan alat musik angklung. Sebanyak 4.117 di antaranya ialah anak-anak berkebutuhan khusus. (Agus Sukmadi)

About eddy Purwanto

Check Also

Dibutuhkan Dorongan ASEPHI untuk Kerajinan Sumatera Barat

Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) diharapkan mampu mendorong kemunculan produk lokal Sumatera Barat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: