Home / Cover Story / Batik Jambi Banyak Diminati

Batik Jambi Banyak Diminati

Batik Jambi memiliki ciri khas dan motif batik yang berbeda karena sejarah yang berbeda, iklim yang berbeda, dan budaya yang berbeda dengan daerah lain sehingga menghasilkan sebuah kreativitas karya yang berbeda pula.

 

Dahulu, batik Jambi tidak dapat dimiliki sembarang orang, melainkan hanya boleh dipakai oleh masyarakat yang memiliki tingkat kehidupan sosial tinggi, misalnya kerabat kerajaan atau kaum bangsawan. Namun dengan berakhirnya pemerintahan Kesultanan  Jambi, batik Jambi pun bisa dipakai oleh siapa saja.

Banyak orang yang belum mengenal batik Jambi yang sudah ada sejak seabad lalu. Perkembangannya makin gencar sehingga para pecinta batik dirasa perlu mengetahui perbedaan batik Jambi dengan batik dari daerah lainnya.

Pemilik Rumah Batik Halim, Raden Halim, mengatakan ada tiga hal yang membedakan batik Jambi dengan batik lainnya. Pertama, batik Jambi didominasi oleh motif flora dan tidak banyak menggunakan motif binatang. Hal ini mendapat banyak pengaruh dari agama Islam. Kedua, polanya tidak terlalu rumit dan tidak berangkai. Ketiga, warna merah  menjadi warna dominan yang banyak dihasilkan dari buah rotan dan kayu secang.

Halim menambahkan, dari penampakannya, terlihat sekali bahwa guratan pada motif batik Jambi sangat berbeda dengan batik Jawa. “Batik Jambi warnanya cerah, dan polanya sederhana,” ucapnya.

Menurut Halim, polanya yang beragam juga mengandung filosofi kehidupan yang bermanfaat. Contohnya, motif bersidang yang membentuk jajaran genjang di bagian tengah yang menyimbolkan jamuan besar sebelum memulai sebuah musyawarah. Dengan perut kenyang, akan semakin mudah bagi para pemangku kepentingan untuk mencapai kata mufakat.



Halim mengatakan, sebagian besar pewarnaan batik jambi diambil dari bahan-bahan alami yang ada di alam sekitar Jambi, yakni campuran dari beragam kayu dan tumbuh-tumbuhan, seperti getah kayu lambato, buah kayu bulian, daun pandan, kayu tinggi, dan kayu sepang. Ada juga campuran dari dua jenis bahan yang tidak terdapat di Jambi, seperti biji pohon tinggi dan daun nila yang biasanya didatangkan langsung dari Yogyakarta.

Selain bahan pewarnanya, lanjut Halim, batik Jambi juga kaya akan aneka motif dengan warna cerah sebagai simbol keceriaan dan keriangan masyarakat Jambi. Motif utama pada batik Jambi yang sederhana dan cenderung konvensional mencirikan watak asli masyarakat Melayu Jambi. “Jika ada motif batik Jambi yang rumit dan detailnya kompleks, maka bisa jadi itu merupakan motif pengembangan baru yang muncul,” papar Halim.

Keunikan batik Jambi terletak pada kesederhanaan pewarnaan dan motif yang khas, yaitu bentuk motif yang tidak berangkai (ceplok-ceplok) dan berdiri sendiri-sendiri. Pemberian nama pada motif batik Jambi dibubuhkan pada setiap bentuk motif, seperti Duren Pecah, Angso Duo Bersayap, Batang Hari, Kapal Sanggat, Bungo Pauh, Tampok Manggis, Merak Ngeram, Candi Muara Jambi, Puncung Rebung, Kaca Piring, dan sebagainya.

Dalam mengembangkan usahanya, Halim mendapatkan bantuan modal dari PT Pelindo II (IPC). Halim mengaku, sangat terbantu dengan adanya dukungan modal dari IPC khususnya IPC Cabang Pelabuhan Jambi dalam mengembangkan usahanya. “Saya mendapat pinjaman modal dari IPC yang saya gunakan untuk mengembangkan usaha,” akunya.

Halim pun sangat berterima kasih dengan IPC Pelabuhan Jambi karena selain mendapat pinjaman modal, ia juga menjadi mitra binaan IPC. “Selama menjadi mitra binaan IPC Pelabuhan Jambi, saya sering diikutsertakan dalam pameran baik di Jambi maupun di luar daerah,” terangnya.

Ke depan, Halim berharap IPC Pelabuhan Jambi bisa membantu ikut mempromosikan batik Jambi ke luar daerah. “Kalau bisa, pemasaran batiknya tidak hanya di sini, tetapi juga ke daerah lain,” imbuhnya.

Gambaran diatas menunjukkan tingginya kepedulian IPC terhadap pengembangan usaha kecil menengah (UKM) di tanah air. Bantuan IPC juga dilakukan kepada kegiatan-kegiatan lainnya. Dimana pada tahun 2017 lalu, PT Pelabuhan Indonesia I, II, III dan IV (Persero) secara sinergi telah menyerahkan bantuan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR), sebesar Rp1 miliar kepada beberapa rumah ibadah dan kelompok nelayan tradisional yang lokasinya berada di daerah pesisir dan merupakan lokasi rencana pengembangan pelabuhan kedepan. (Achmad Ichsan)

About eddy Purwanto

Check Also

The Tripper Mengusung Konsep Gitar Travel

Tak puas sekadar sebagai konsumen, Indonesia mampu mengukuhkan posisi sebagai produsen gitar yang cukup diperhitungkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: