Dari Cangkang Telur, Raup Jutaan Rupiah

Telur yang biasa dimakan sehari-hari menghasilkan limbah berupa kulit atau cangkang yang kebanyakan dibuang. Namun di tangan orang-orang terampil dan kreatif, kulit telur bisa menjadi kerajinan dengan berbagai motif yang sangat indah dan artistik.

Kulit telur yang dicat menjadi hiasan tidak kalah menarik dengan kerajinan lainnya. Beberapa kulit telur yang dapat dijadikan kerajinan, antara lain kulit telur ayam, bebek, burung puyuh, burung kasuari, hingga yang terbesar ialah kulit telur burung onta. Ternyata, kerajinan kulit telur banyak diminati dan bernilai ekonomi cukup tinggi hingga jutaan rupiah.

Kreativitas dan inovasi menjadi modal dasar dalam mengembangkan usaha lukisan cangkang telur ini. Made Mahardike, misalnya, hanya bermodal cat lukis, kuas, dan cangkang telur sebagai media. Bahkan, hasil kerajinannya ini sampai menembus pasar luar negeri.

Saat ini, Made Mahardike bisa dikatakan sudah tidak memikirkan pasar untuk menjual hasil karyanya. Setiap bulan, ia sudah kebanjiran order lukisan telur untuk dikirim ke luar negeri. Bahkan, order dari kawasan wisata nasional pun juga tidak pernah sepi.

Di Desa Bitera, Kecamatan Gianyar, Bali, Made merupakan salah satu perajin lukisan cangkang telur yang cukup produktif. Ia menuturkan, dulu hampir semua masyarakat di Desa Bitera berprofesi sebagai pelukis kertas. Kemudian sekitar 1990-an, pelukis Made Supto mengundang pelukis kulit telur asal Swiss untuk mengajarkan cara melukis di cangkang telur. “Kami diajarkan cara melukis di cangkang telur yang dulu belum pernah ada di sini,” ucapnya.

Akhirnya, masyarakat di Desa Bitera tertarik untuk melukis di cangkang telur hingga sekarang. “Karena kerajinan ini sangat unik, akhirnya hampir semua masyarakat di lingkungan desa ini melukis di cangkang telur,” ujar Made.

Made mengatakan, tema lukisan yang dituangkan dalam cangkang telur berupa kisah-kisah pewayangan atau keindahan panorama Pulau Dewata. Ia pun memajang hasil kreasinya di sebuah galeri kecil dengan memanfaatkan sebagian ruangan di rumahnya.



Harga lukisan telur tergantung pada ukuran, bahan, dan detail lukisan. Untuk telur burung onta yang besar, harganya bisa mencapai Rp1,5 juta per buah. Untuk burung kaswari, harganya lebih murah karena ukuran telurnya lebih kecil berkisar Rp1 juta. Demikian pula lukisan telur angsa dan telur itik, harganya lebih murah lagi. Kini, omzetnya telah mencapai puluhan juta setiap bulan. “Penjualannya ada yang langsung dikirim ke luar negeri, biasanya ke Amerika Serikat. Ada juga yang dipasarkan ke hotel-hotel di sekitar Bali,” tutur Made.

Namun, Made mengakui ada sedikit kendala dengan pesanan dari telur asli. Selain sulit dicari, telur asli juga rentan pecah. Akhirnya, Made dan perajin cangkang telur di sana mencari solusi. “Tak ada rotan, akar pun jadi” yang dikatakan pepatah sepertinya benar-benar diresapi oleh para pelukis cangkang telur di sana. Mereka memanfaatkan kayu albasia sebagai bahan baku kerajinan sebagai pengganti kulit telur unggas.

Made pun memanfaatkan kayu albasia. Kayu ini dipilih karena mudah dibentuk menyerupai telur asli. Selain itu, harganya lebih murah dan tidak mudah pecah. Menurutnya, inovasi ini tidak memengaruhi minat pembeli dari luar negeri. Dengan bahan baku kayu, harga lukisan menjadi lebih murah, yakni dijual dengan harga Rp50 ribu hingga Rp100 ribu untuk ukuran telur angsa. Sementara itu, untuk ukuran telur burung unta dijual seharga Rp1 juta.

Meski dengan bahan baku pengganti, lukisan Made masih tetap laris. Dengan cara ini, para perajin berusaha tetap bertahan agar usaha mereka terus berjalan. “Banyak juga pesanan cangkang telur dari kayu yang datang. Mereka mengeluh, barang yang sampai banyak yang pecah. Jadi, mereka juga mendukung perubahan bahan baku dari kulit telur menjadi kayu,” papar Made.

Awalnya ia berhubungan dengan BANK BRI ketika ia berniat untuk menambah modal demi mengembangkan usaha cangkang telurnya. Kemudian, ia mendapat informasi bahwa BANK BRI memiliki layanan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang bisa digunakan untuk menambah modal usahanya.

Setelah memenuhi beberapa persyaratan, tepatnya pada 2011, ia akhirnya mendapat kucuran KUR dari BANK BRI. Pinjaman pertama yang diberikan sebanyak Rp10 juta. Setelah pembayaran dana lunas, ia pun ditawarkan kembali oleh pihak bank. “Sekarang saya ada rencana mau pinjam lagi,” akunya.

Made mengakui, banyak manfaat yang didapat setelah ia menjadi mitra binaan BANK BRI. Selain modal pinjaman yang digunakan untuk membeli bahan baku, Made juga sering diajak mengikuti beberapa pameran oleh BANK BRI. Ia pun berharap, BANK BRI selalu membantu usahanya. “Semoga BANK BRI terus mendukung pengembangan usaha saya,” ujarnya. (Achmad Ichsan)

About eddy Purwanto

Check Also

Perajin Tenun Manfaatkan Dana Bergulir

Pemanfaatan dana bergulir yang disalurkan Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *