Gebyok, Warisan Budaya Jawa

Gobyok merupakan salah satu furniture khas Jawa berupa partisi sehingga dapat difungsikan sebagai penyekat antar ruangan. Pada umumnya Gebyok hadir dengan ukiran khas Jawa dan terbuat dari kayu jati yang bermutu tinggi. Dengan segala keunikannya, Gebyok hadir sebagai partisi khas Jawa Yang bernilai seni tinggi dan memiliki nilai estetika yang sangat tinggi.

Pada dasarnya, fungsi Gebyok adalah sebagai partisi ruangan yang dilengkapi dengan pintu. Namun, saat ini Gebyok juga diproduksi sebagai partisi murni dan elemen dinding. Tingginya minat masyarakat pada partisi khas Jawa ini telah mengantarkan Gebyok sebagai furniture yang memiliki perluasan fungsi dari fungsi semula yang hanya sebagai partisi.

Sejarah Gebyok bisa ditarik sejauh masa hidup Ratu Kalinyamat, putri Sultan Trenggono, Sultan Demak abad ke-16. Kala itu, sang putri yang bernama Retno Kencono Wungu bersama dengan suaminya yakni Sunan Hadirin mendapati jatah kekuasaan di wilayah Jepara, Kudus, Pati, dan sekitarnya.

Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Gebyok telah diciptakan dan menjadi karya agung dengan ukiran rumit dan indah yang menjadi titik tolak utama. Gebyok mencerminkan pemikiran dan perasaan estetik maupun etik. Gebyok bukan semata-mata bentuk yang tidak ada artinya, namun Gebyok menunjuk pada kebijakan manusia.

Gebyok yang sudah berkembang pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat adalah rumah kayu yang dipenuhi oleh kerajinan ukir pada kayunya. Gebyok diciptakan untuk meraih tujuan praktis, etis, dan estetik.

Sebagai kebutuhan praktis, Gebyok merupakan sebagai rumah yang layak dan tangguh. Walaupun penuh ukiran, tetapi tidak meninggalkan kekuatan sebagai penyangga rumah. Sebuah rumah yang menggunakan Gebyok bisa disebut bukan rumah biasa melainkan rumah pilihan, karena untuk menciptakan Gebyok diperlukan kayu pilihan serta tenaga ahli terbaik pada zamannya.

Kebutuhan Gebyok pada nilai estetis adalah tak pelak Gebyok memulangkan keindahan pada ukiran yang tidak tertandingi. Kesabaran, ketelatenan, dan kemampuan teknis ukir lihai adalah syarat mutlak menciptakan ukiran yang indah pada Gebyok.

Gebyok juga memiliki nilai etis dan spiritual, Gebyok memberi pesan spiritual bagi penghuninya. Ukiran pada Gebyok memaparkan tujuan hidup manusia, sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan hidup), keharmonisan, kesejahteraan dan kedamaian. Keharmonisan desain Gebyok memperlihatkan pentingnya keharmonisan hidup dengan alam.

Gebyok juga sebagai tanda mengenai perjalanan ke surga, naik turunnya roh nenek moyang. Swastika adalah simbol harmoni dan keseimbangan hidup. Bung bambu adalah simbol regenerasi, kesuburan, dan keberlanjutan hidup. Kala makara adalah simbol cinta antara ibu dan anak.

Tak heran jika Gebyok maupun rumah limasan berpenghuni makhluk halus, partikel kayu yang digunakan bertempat tinggal para roh halus ini sudah tentu kayu-kayu pilihan dan memiliki kekuatan magis.



Kini Gebyok menjadi warisan budaya Indonesia yang tidak lekang oleh zaman. Gebyok penuh metafor dan pesan mengenai kebijakan hidup terkait kesejahteraan hidup bahwa, sejahtera bukan hanya di dunia saja melainkan di akhirat.

Gebyok pernah menjadi simbol kekayaan di Kudus, Gebyok banyak diaplikasikan pada rumah Kudus sebelum tahun 1810 M serta menjadi simbol kejayaan dan kekayaan pemiliknya. Lingkungan Kudus Kulon diciptakan sebagai tempat khusus rumah tradisional Kudus. Masyarakat Kudus Kulon tetap berusaha membuat rumah Gebyok yang sudah mereka kenal sejak zaman pemerintahan Demak dan Sunan Kudus.

Ukiran kayu yang terdapat pada Gebyok kayu membutuhkan kemahiran tingkat tinggi, hingga saat ini pun kemahiran dalam mengukir kayu tidak pudar, pengrajin Gebyok banyak ditemukan di Jepara dan Kudus.

Sejak abad ke-16 sampai abad 18, pengrajin ukir kayu Kudus menerima berbagai pesanan untuk membangun rumah kayu, yakni dengan menggunakan bahan utama dari kayu jati dengan kualitas terbaik yang di ambil dari hutan Blora, Tubah, dan Bojonegoro. Pada abad ke-19, jati berkualitas baik semakin jarang ditemukan, sehingga menyurutkan minat mereka untuk menggembangkan keahliannya.

Kemahiran ukir yang masih bertahan hingga saat ini berada di Jepara, kota tetangga Kudus. Kemahiran ukir warga Jepara sangat terkenal dan bertahan hingga saat ini. Sentra pembuat Gebyok pun terletak di kota Jepara yang berdekatan dengan kabupaten Kudus.

Rumah Gebyok saat itu menjadi identitas bahwa orang kaya Kudus Kulon berbeda dengan masyarakat kalangan atas Kudus Wetan, sekaligus membedakan dengan orang Kudung kebanyakan yang rumahnya memiliki bentuk limasan biasa. Inilah mengapa bangunan rumah Gebyok menjadi ciri khas dan diakui sebagai rumah adat Kudus.

Kualitas kayu yang digunakan sebagai bahan baku Gebyok pada umumnya memang merupakan jenis kayu yang tahan cuaca sehingga cenderung lebih kuat dan awet serta kayu tersebut harus mudah untuk diukir.

Tinggi rendahnya kualitas partisi khas Jawa ini sangat bergantung pada kualitas kayu yang digunakan sebagai bahan baku. Selain itu, tingkat kerumitan ukiran, ukuran, ornamen, ketebalan bahan dan finishing juga turut menentukan kualitas keindahan pada Gebyok. Dengan segala keunikan dan kerumitannya, Gebyok hadir sebagai partisi khas Jawa yang memiliki nilai seni tinggi dan cocok bagi mereka yang memiliki apresiasi akan nilai estetika sebuah karya.

Saat ini, bila menyebut istilah Gebyok yang terbayang di masyarakat bukanlah pada fungsinya, melainkan kerumitan ukiran, baik itu ukiran gaya Jepara, Kudus, Madura, atau Jawa. Jadi, seandainya bertemu dengan pintu kayu yang berukiran rumit maka pintu tersebut disebut “Gebyok pintu”. Begitu pula bila ada jendela kayu yang berukir rumit maka jendela tersebut disebut “jendela Gebyok”. Sehingga muncullah di masyarakat istilah tempat tidur Gebyok (peturon), pelaminan Gebyok, dekorasi Gebyok, dan lain sebagainya.

Karena fungsinya yang tidak hanya sebagai pembatas ruangan, Gebyok saat ini apabila dari sisi bahan sudah mulai bervariasi, yakti tidak melulu menggunakan kayu jati. Saat ini bahan baku yang digunakan bisa dari kayu nangka dan mahoni, bahan baku tersebut sudah mulai diterapkan untuk pembuatan Gebyok. Namun, dari sisi pengerjaan proses akhir atau finishing juga sudah tidak terpacu pada warna natural pada kayu, saat ini sudah mulai muncul Gebyok berwarna putih bahkan ada pula Gebyok dengan warna warna lainnya.

Tumbuh kesadaran dan kebanggaan akan warisan budaya daerah, ikut serta menciptakan kegairahan dalam memelihara dan mengembangkan budaya Gebok. Kini, Gebyok menjadi incaran di seluruh Indonesia bahkan di dunia.

About eddy Purwanto

Check Also

Jangan Kecilkan UMKM

Pemerintah sangat peduli terhadap para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), ini terbukti dengan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: