Generasi Masa Kini, Generasi Akrab Internet

Teknologi membuat para generasi muda sangat mengandalkan media sosial sebagai tempat mendapatkan informasi. Saat ini, media sosial telah menjadi platform pelaporan dan sumber berita utama bagi masyarakat.

Tren tersebut sudah terbukti di sepanjang 2016 melalui sejumlah peristiwa penting. Masyarakat benar-benar mengandalkan media sosial untuk mendapatkan informasi terkini dari sebuah peristiwa.

Penggunaan internet oleh generasi masa kini telah menggeser perilaku mereka dalam berbelanja. Hasil penelitian yang dilakukan The Nielsen Global Survey of E-commerce terhadap pergeseran perilaku belanja para generasi milenial menunjukkan perilaku yang perlu mendapatkan perhatian para pelaku marketing.

Penelitian dilakukan berdasar penetrasi internet di beberapa negara. Nielsen melakukan penelitian terhadap 30 ribu responden yang memiliki akses internet memadai. Responden tersebut berasal dari 60 negara di Asia Pasifik, Eropa, Amerika Latin dan Utara, serta Timur Tengah.

Penelitian tersebut menggambarkan perilaku generasi masa kini yang sangat akrab internet memilih jalur daring untuk meneliti dan membeli beragam produk atau jasa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Nielsen mencatat, pertumbuhan penetrasi perangkat mobile di kota-kota besar Indonesia mencapai 88%.

Kepemilikan perangkat mobile menjadi salah satu faktor paling signifikan terhadap perilaku belanja daring. Berdasarkan riset Nielsen tersebut, Indonesia memiliki peringkat teratas secara global dalam penggunaan ponsel pintar untuk belanja daring.

Sebanyak 61% konsumen memilih berbelanja menggunakan ponsel pintar, dan 38% lainnya memilih tablet atau perangkat mobile lain. Sementara itu, 58% konsumen lebih memilih menggunakan komputer.

Digital Marketing
Digital marketing merupakan pilihan dan metode yang sangat ideal untuk pasar generasi masa kini. Marketing berbasis digital menjadi tren di kalangan generasi masa kini. Generasi masa kini dideskripsikan sebagai kelompok masyarakat yang merupakan pangsa pasar ideal untuk digital marketing.



Menurut William Henley, peluang tersebut merujuk pada pengertian adanya pasar yang cerdas dan kritis. Generasi masa kini seharusnya bisa direngkuh oleh para pelaku kalangan UMKM, tetapi generasi ini juga menyimpan tantangan. ”Di sini, UMKM harus bisa menghasilkan produk dan layanan yang sesuai dengan minat dan keinginan generasi masa kini. Di luar itu, UMKM bisa menyediakan lahan yang bisa dimanfaatkan oleh kalangan masa kini,” ujarnya.

Setiap pelaku usaha yang sedang berupaya untuk membidik pasar generasi masa kini harus memahami tiga kunci strategi pemasaran. Jejaring sosial tidak hanya sebagai sarana berinteraksi dengan orang lain, tetapi juga sumber informasi, berita, dan tempat menggali atau bahkan menciptakan tren terbaru. Generasi masa kini mencari berbagai produk atau jasa terbaru lewat rekomendasi di jejaring sosial.

Setelah Facebook dan Twitter, kini ragam jejaring sosial sudah sangat luas dan mencakup Instagram, Pinterest, Vine, Path, Snapchat, YouTube, dan sebagainya. Generasi masa kini sudah semakin jarang menonton televisi atau membaca koran, karena mereka memilih melakukan semuanya di internet melalui jejaring sosial.

Strategi pemasaran pertama ialah menciptakan iklan yang memengaruhi, bukan memaksa untuk membeli. Generasi masa kini biasanya enggan menanggapi iklan dengan bahasa konvensional yang cenderung menyuruh atau bahkan “memaksa” untuk membeli. Iklan yang bisa memancing minat generasi masa kini cenderung kreatif, mengandung unsur orisinal, atau menarik minat dengan tampilan kreatif.

Digital marketing harus mengandalkan iklan orisinal untuk menarik minat generasi masa kini dan menghasilkan trafik organik, terutama jika mengandalkan internet sebagai strategi pemasaran. Itulah sebabnya pemilik bisnis sering bekerja sama dengan “selebriti Twitter” untuk mempromosikan merek, karena lebih mudah memengaruhi generasi masa kini.

Strategi pemasaran kedua ialah menciptakan tawaran reward yang menarik. Generasi masa kini gemar mencari kesempatan untuk mendapatkan reward menarik. Inilah sebabnya pemilik usaha biasanya menggunakan jejaring sosial untuk membagikan reward. Mereka memberi penghargaan kepada pelanggan setia yang menjadi bagian dari jejaring sosial. Jika pembeli ingin mendapat reward, mereka harus bergabung dalam jejaring sosial si pemilik usaha. Kemudian, barulah mereka bisa mendapat imbalan, seperti voucher, informasi diskon khusus, atau barang gratisan.

Teknik pemasaran dulu biasanya berfokus pada target rentang usia tertentu. Namun seiring perkembangan tren dan teknologi serta semakin beragamnya anggota populasi, pemasar harus mulai berpikir membidik kelompok sosial tertentu sebagai strategi. Misalnya, memasarkan suatu produk khusus untuk mereka yang menyukai travelling, mencintai hewan, peduli pada isu sosial atau lingkungan, suka membaca, penggemar film, dan sebagainya.

Dengan membidik kelompok, fokus pemasaran lebih terpusat dan mudah dikembangkan. Pelaku digital marketing memang dituntut harus melakukan strategi untuk menarik generasi masa kini agar mau melirik produk atau jasa yang ditawarkan. (Ahmad Jauhari)

About eddy Purwanto

Check Also

Dibutuhkan Dorongan ASEPHI untuk Kerajinan Sumatera Barat

Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) diharapkan mampu mendorong kemunculan produk lokal Sumatera Barat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: