Home / Headlines / Hiasan Logam Bernuansa Etnik dan Antik

Hiasan Logam Bernuansa Etnik dan Antik

Limbah bekas cetakan batik cap, belakangan ini banyak diminati masyarakat khususnya para kolektor penggemar hiasan bernuansa etnik dan antik, diprediksi di masa mendatang kerajinan dari bekas cetakan batik akan semakin langka.

Hiasan interior bernuansa etnik dan antik, bila ditempatkan pada bangunan gaya modern, baik itu tempat tinggal maupun perkantoran, akan memberi kesan anggun, indah, dan nyaman. Beberapa tipe hiasan interior yang bernuansa etnik dan antik, antara lain, hiasan meja, hiasan dinding, hiasan gantung, dan hiasan lantai.

Hiasan etnik dan antik, salah satu cirinya memiliki nilai seni dan budaya lawas (kuno). Salah satunya, hiasan interior yang terbuat dari bahan logam bekas pakai, yang memiliki nilai seni dan budaya yang tinggi, yakni logam tembaga bekas cetakan batik.

Sebagai limbah di sentra-sentra batik, bekas cetakan batik yang terbuat dari logam tembaga tersebut banyak diburu kolektor maupun perajin sebagai bahan untuk dibuat hiasan. Mereka juga kerap mencari di pasar loak di seputaran Yogyakarta, Solo (Surakarta) hingga ke Pekalongan.

Salah satu perajin hiasan bekas cetakan batik, adalah Edhita Art Craft yang memproduksi aneka kerajinan logam khusus interior yang bernuansa etnik dan antik. Dari sisi teknik pembuatan hiasan dari logam bekas cetakan batik ini, sangat sederhana, hanya memoles logam dan memberi bingkai.

Ada aneka corak dan motif dari hiasan bekas cetakan batik, tergantung dari asal daerah mana. Namun, bahan bekas cetakan batik asal Solo dan Yogyakarta, umumnya lebih berat dan harganya lebih mahal, ketimbang dari daerah lain.

Mengingat susahnya untuk mendapatkan bahan bekas cetakan batik, karena sebagian besar juragan batik di sentra-sentra batik sudah meninggalkan batik cap beralih ke batik printing. Tak pelak lagi, jika kemudian limbah cetakan batik ini bakal semakin langka dan menjadi barang antik yang akan diburu kolektor dengan harga yang melambung tinggi.

 

Aneka Makna Bekas Cap-cap Batik

Motif Truntum

Motif ini termasuk kelompok motif ceplok dari golongan geometris. Konon berasal dari kata “Taruntum” yang berarti senantiasa tumbuh bersemi, semarak lagi. Diciptakan sebagai simbol ungkapan rasa cinta yang tulus tanpa syarat dari istri kepada suaminya. Abadi dan semakin lama semakin subur berkembang (tumaruntum)

Motif Sido Luhur



Berasal dari kata Sido (jadi) dan luhur. Motif tersebut mengandung harapan agar hidup menjadi luhur, berpangkat tinggi, berbudi luhur dan tabah menghadapi segala cobaan hidup

Motif Jlamprang

Motif khas Pekalongan yang merupakan pengembangan dari patola India yang mendeformasi stilisasi bunga-bunga yang disusun melingkar atau berkeliling secara seimbang dan simetris. Motif ini simbol dari penjuru mata angin dan mempunyai makna kedamaian, kesejahteraan, serta keseimbangan.

Motif Semen Gurdo

Semen atau bersemi/tumbuh. Semen mengutamakan bentuk tanaman dengan kar dan sulur atau sering disebut pohon hayat, bermakna kehidupan. Sayap garuda merupakan simbol perlindungan dari kekuatan Sang Pemelihara.

Makna dari motif tersebut adalah untuk mengingatkan bahwa manusia hidup di tengah-tengah lingkungan yang sangat mempengaruhi jalan hidupnya. Berdamailah dalam kebaikan dengan alam sekitar sebagai sesama ciptaan Yang Maha Kuasa

Motif Kawung Brendi

Motif kawung disarikan dari buah kawung, atau kolang-kaling yang dibelah melintang. Motif kawung terdiri dari kawung yang bertajuk empat dan mlinjon berbentuk segi empat yang garis luarnya terdiri dari garis lengkung. Motif ini mengandung pengharapan agar si pemakai adalah seorang manusia yang mempunyai ari suci (bibit unggul) yang dalam hidupnya berguna bagi nusa dan bangsa.

Motif Kawung Kopi Pecah

Kawung yang diiris-iris sehingga bentuknya menjadi kecil-kecil seperti biji kopi. Motif ini mengandung makna kesedihan atau kesusahan. Untuk mengingatkan manusia bahwa kesedihan adalah salah satu lakon hidup yang harus dijalani.

Motif Beras Wutah

Sering disebut juga sebagai Wos Wutah. Bermakna mudah mencari rejeki dan hidup berkelimpahan.

Cap-cap batik bekas tersebut memiliki motif yang berbeda, yang juga memiliki makna yang berbeda. Tentunya peletakan dari hiasan bekas cetakan batik itu dapat dilihat dari motifnya. Misal, motif Truntum untuk kamar tidur suami-istri, motif Semen Gurdo bisa diletakan di ruang keluarga atau ruang tamu, dan motif Sido Luhur sangat tepat bila ditempatkan di ruang kerja.

About Achmad Ichsan

Check Also

Lima Program Strategis Kemenkop

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki telah menyiapkan lima program strategis ya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: