Kerajinan Batok Nan Unik

Ada banyak produk kerajinan berbahan batok kelapa yang dibuat oleh perajin di berbagai daerah di negeri ini. Perajin tas berlabel Coco Art dan perajin batu akik dengan ikat tempurung kelapa ini, misalnya, dan berbagi cerita sukses.

Kerajinan batok kelapa merupakan salah satu kerajinan paling tua di negeri ini. Pohon kelapa sebagai bahan baku tumbuh tersebar di seluruh daratan Nusantara. Tanaman ini tidak sebatas tumbuh dan berkembang dengan subur di pesisir pantai, di padang datar, atau kaki pegunungan.

Hampir semua bagian dari pohon kelapa dapat dimanfaatkan, mulai dari akar, batang, daun, hingga buahnya. Salah satu bagian yang banyak dimanfaatkan ialah tempurung kelapa. Bagian yang keras dari buah kelapa yang tua ini kerap disebut batok kelapa.

Aneka kerajinan bisa dibuat dari bagian yang keras dari buah kelapa, seperti perabotan dapur, gayung, teko, dan sebagai arang. Tidak hanya perkakas dapur, tempurung kelapa juga bisa dibuat aneka suvenir hiasan ruangan, seperti hiasan dinding, hiasan meja, dan pembatas ruang; bahkan untuk aksesori wanita, seperti kalung, gelang, anting, sabuk, dan tas.

Sayangnya, sebagian besar masyarakat kurang memanfaatkan batok kelapa sebagai bahan baku aneka kerajinan. Padahal, produk kerajinan batok kelapa tidak hanya diminati oleh pasar dalam negeri, tetapi juga bisa diekspor ke mancanegara. Seperti halnya Ismarofi (42) warga Jl. Kaliglagah 48 Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar.

Terlintas gagasan di benak perajin itu untuk memanfaatkan limbah batok (tempurung kelapa) yang melimpah di Kota Blitar. Dengan modal Rp2 juta pinjaman dari tetangga, ia mulai membuat mesin modifikasi untuk membentuk batok kelapa itu sesuai dengan motif yang dinginkan.

Produk kerajinan pertama yang dibuatnya berupa tas wanita yang bernilai jual. Potongan-potongan batok yang sudah berbentuk motif tertentu tadi ditempel di media kertas karton yang dilapisi kain. Lalu dijahit dengan benang nilon dan di-finishing. Selanjutnya dirangkai dengan furing dan dipasang pegangan (handle). “Jadi, sebuah tas batok bisa dibuat dengan aneka desain,” tuturnya kepada media di workshop-nya akhir bulan lalu.

Itulah asal-muasal bisnis tas batok berlabel Coconut Art asal Blitar. Ismarofi merintis usahanya sejak 2009. Kala itu, tas produksinya masih dijajakan dari pintu ke pintu dengan harga Rp25 ribu. “Lebih banyak yang menolak ketimbang yang membeli. Masyarakat masih menganggap remeh produk tas lokal,” ujarnya menceritakan perjalanan tas batok kelapa asli Blitar itu.

Selang dua tahun, ia mulai melihat harapan ketika tas batok kelapa ini dijajakan secara online. Pesanan mulai berdatangan dari berbagai kota, bahkan banyak pembeli yang datang langsung ke workshop-nya. Sejak saat itu, Ismarofi mulai berani berinovasi membuat aneka aksesori kerajinan batok dengan menggunakan label Coco Art, mulai dari kalung, anting, gelang, hingga gantungan kunci.



Pernak-pernik perhiasan batok berkisar dari Rp5 ribu sampai Rp15 ribu. Sementara itu, 34 model tas koleksi Coco Art dengan aneka ukuran dipatok dengan harga Rp25 ribu hingga Rp125 ribu. “Omzetnya alhamdulillah bisa mencapai Rp20 juta dalam sebulan,” jelasnya.

Pembelinya pun datang dari Sabang sampai Merauke. Pemesanan paling banyak datang dari Maumere (Flores), Kalimantan, Bali, dan Lombok. Sementara itu, pesanan dari luar negeri biasanya berasal dari para tenaga kerja Indonesia, seperti di Hong Kong, Brunei, dan Malaysia. Turis-turis yang sedang berkunjung ke Blitar pun tertarik dengan produknya, seperti dari Rusia, Belanda, dan Meksiko.

Dalam mengelola bisnis Coco Art yang lima tahun belakangan ini mulai banyak permintaan, Ismarofi dibantu oleh sang istri, Ririn Rikawati (38), dalam mendesain produk-produk baru. Kolaborasi keahlian suami-istri ini membuat produksi Coco Art makin berkibar. Jika semula pasangan suami-istri ini hanya mampu mempekerjakan dua karyawan, kini ada 40 warga sekitar Kecamatan Sukoredjo Blitar yang ikut bekerja di workshop Coco Art ini.

Kisah sukses Coco Art juga dialami perajin batok kelapa lain. Dani Ramdani, warga Nagarawangi, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, juga menyalurkan bakatnya sebagai perajin dengan memanfaatkan bahan tempurung kelapa.

Berawal dari kecintaannya terhadap kerajinan-kerajinan Nusantara, Dani mulai menggeluti bisnis bingkai (watang) cincin dari tempurung kelapa. Namun melihat tren batu akik belakangan ini, ia terinspirasi untuk membuat watang batu akik. Terlebih, pecinta batu akik hanya mengenal watang dari emas dan perak.

Perajin sekaligus tukang tambal ban ini memanfaatkan waktu luang di lapak tambal bannya untuk membuat watang batu akik. Sambil menunggu pelanggan di bengkelnya, kini ia juga sibuk memproduksi kerajinan ini. Walau hanya seorang perajin dadakan, kreativitasnya patut diacungi jempol.

Alhasil, batu akik dan liontin yang sudah dirangkainya banyak menarik minat para pecinta batu akik. Hasil karyanya mulai tersebar dari mulut ke mulut. Salah seorang pecinta batu akik mengaku, pengikat cincin yang terbuat dari tempurung kelapa lebih unik dan memiliki nilai seni yang cukup tinggi. Terlebih bila serat-serat tempurung yang dirangkai dengan urat-urat yang terdapat dalam batu akik dan liontin terlihat menyambung.

Harga pengikat cincin batu akik yang terbuat dari tempurung bervariasi mulai dari Rp50 ribu hingga Rp250 ribu sangat tergantung dari harga batu akiknya. Dalam sepekan, Dani mampu menghasilkan cincin batu akik dari tempurung kelapa hingga 20 buah. Bisnis ini diakuinya dapat menambah penghasilan.

Makin banyaknya produk kerajinan berbahan baku batok kelapa membuktikan bahwa tempurung kelapa bisa dibuat berbagai kerajinan. Tergantung dari kreativitas dan inovasi sang perajin. (Adyan Soeseno)

About eddy Purwanto

Check Also

Mengenal Sarung Tenun BHS

Sarung BHS adalah Sarung Tenun yang ditenun menggunakan Tenun Tangan atau yang biasa dikenal dengan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: