Kerajinan dari Limbah Kayu Banyak Diminati

Kerajinan dari limbah kayu dan bambu bekas ternyata banyak diminati masyarakat. Hasil kerajinan dari olahan limbah ini, tidak kalah bagusnya dengan produk kerajinan lainnya. Ini terbukti, di Pameran Inacraft 2019 lalu, produk kerajinan dari limbah kayu dan bambu bekas ini habis terjual.

Frans pemilik Flodesta Gallery mengatakan, Kerajinan asli (guanine) dari limbah kayu dan bambu bekas yang berkualitas dengan harga miring, pasti akan diburu buyers. “Aneka produk kerajinan Fodesta Gallery habis di borong buyer asing, karena kualitas produknya bagus, serta dengan harga miring,” ucapnya saat pameran Inacraft April 2019 lalu.

Perajin asal Bodowoso ini menjelaskan, aneka kerajinan limbah kayu dan bambu produk Flodesta yang ikut ditampilkan di pameran Inacraft ini, atas sponsor Dinas Perindustrian Kabupaten Bondowoso. Walaupun menempati paviliun paling pojok di lantai bawah, produk kerajinannya habis terjual.

Kerajinan yang dibuatnya, menurut Frans, banyak diminati konsumen karena tiap produk kerajinan yang dibuat dalam jumlah terbatas. Bahkan, lanjutnya, banyak juga yang produk tunggal atau satu model saja karena tidak ada bentuk yang sama dari limbah jati dan bambu bekas tersebut. “Dapatnya limbah mirip kuda, ayam, bebek, buaya. Jadi, saya tinggal bentuk sesuai anatomi hewan itu,” tukasnya.



Frans optimis, produk kerajinan limbah jati dan bambu yang dijajakan di pameran banyak yang beli. Ada puluhan produk kerajinan yang ia pamerkan di Inacraft Fair, seperti meja limbah jati, hiasan dinding, baki, aneka patung unggas (ayam dan bebek), kuda, buaya, kotak kayu, hingga lampu duduk. “Saya senang sekali, di hari ke tiga pameran Inacraft sebagian besar laku. Kebanyakan di borong buyer dari mancanegara,” ujarnya.

Selain pembelian langsung di pameran, lanjutnya, ada juga buyer yang memesan produk kerajinannya untuk dibuatkan dalam jumlah besar. “Nilai pesanannya bisa menembus Rp2 miliar, kalau ini terealisasi saya sangat senang sekali,” tutur Frans yang baru pertama kali ikut pameran Inacraft.

Frans menambahkan, pemesanan Baki Jati merupakan salah satu produk kerajinan miliknya yang paling laku. Dimana, buyer dari India memesan 10 ribu buah dengan harga Rp125.000- per buah. Selain itu, hiasan dinding dari potongan limbah jati dipesan 400 buah, seharga Rp 450.000-, per buah yang akan digunakan untuk hiasan ruangan hotel. “Harga bisa murah karena bahan baku yang dipakai adalah limbah yang tidak ada harganya, ya barang yang telah dibuang,” imbuhya.

Sudah 20 tahun Frans menekuni sebagai perajin limbah untuk hiasan dinding, pajangan ruangan (property), dengan brand Flodesta Galery yang berlokasi di Bondowoso. Penghasilan dari bisnis kerajinan limbah kayu jati dan bambu, menurutnya, cukup lumayan. “Karena harga bahan bakunya murah dan mudah didapat, sehingga marginnya bisa besar dan tidak terpengaruh krisis,” ujarnya. (Adyan)

About eddy Purwanto

Check Also

Dibutuhkan Dorongan ASEPHI untuk Kerajinan Sumatera Barat

Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) diharapkan mampu mendorong kemunculan produk lokal Sumatera Barat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: