Kerajinan Limbah Kayu Jati

Selama lebih dari 25 tahun lalu, Desa Pangan Jaya, Kabupaten Konawe Selatan dikenal sebagai pusat pembuatan mebel tectona grandis atau kayu jati asli. Selama kurun waktu itu pula, limbah kayu jati atau sisa dari pembuatan mebel tersebut dianggap tak memiliki fungsi dan akhirnya hanya dibakar.

Seiring dengan hadirnya Badan Ekonomi Kreatif yang memiliki komitmen untuk menjadikan industri kreatif berkembang dari hulu sampai hilir, kebiasaan para perajin membakar limbah kayu jati di Pangan Jaya sudah mulai berkurang.

Terlebih sejak selenggarakannya Program Fasilitasi Pembentukan Ekosistem Pusat Kreatif Kerajinan Limbah Kayu Konawe Selatan yang dibidani oleh Badan Ekonomi Kreatif bersama dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kab. Konawe Selatan. Program ini dititikberatkan pada kegiatan pembinaan dan pendampingan terhadap 50 perajin yang mewakili dari 2 Desa di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara yakni Desa Pangan Jaya dan Desa Iwoi Mendoro.

Landasan Pembentukan Ekosistem Pusat Kreatif tersebut, dimaksudkan untuk mengenali potensi unggulan dari sebuah wilayah dengan berusaha mengetahui dari lima Rantai Nilai Ekonomi Kreatif, serta empat aktor (Akademisi, Bisnis, Komunitas, Pemerintah, dan Media), serta dua daya ungkit yakni forward linkage dan backward linkage.

Artinya, program ini dilakukan secara bersama-sama dan saling sinergi oleh lintas pemangku kepentingan yang melibatkan Pemerintah baik pusat maupun daerah, komunitas kreatif sebagai representasi masyarakat, akademisi dan para pelaku usaha. Program fasilitasi Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif memiliki tujuan besar, yaitu; peningkatan PDRB, peningkatan jumlah tenaga kerja terampil, serta pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal.

Program yang berlangsung selama 3 bulan tersebut dibagi kedalam tiga tahapan. Tahap pertama difokuskan pada edukasi pengrajin terkait potensi ekonomi dari Limbah Kayu serta merangsang para perajin untuk langsung berkreasi menjadikan limbah kayu jati yang ada menjadi karya seni yang fungsional. Tahap kedua, program ini menekankan pada para pengrajin untuk mengasah ketrampilannya dalam mendesain / menggambar, kemudian pengenalan dan praktik teknik menggambar, memahat, serta memotong ragam produk kerajinan dari limbah kayu jati yang ada.

Tahap ketiga, bertempat di Wonua Monapa Resort, Bapak Sukirno selaku mentor mengajarkan tentang pemahaman teknis finishing hasil kerajinan, memahami manajemen keuangan dan bisnis untuk menghitung harga pokok produksi, serta cara pemasaran dan promosi hasil kerajinan limbah kayu jati yang telah diselesaikannya.
Sekda Kab. Konawe Selatan, Ir. Drs. H. Sjarif Sajang, Msi. menyampaikan bahwa, bahwa potensi kerajinan limbah kayu jati di Konawe Selatan masih sangat besar hal ini dari banyaknya limbah kayu jati yang terbuang, serta besarnya pangsa pasar yang ada. Namun demikian dikarenakan tidak adanya pembinaan dari para ahli maka selama bertahun-tahun limbah kayu jati tersebut hanya dijadikan kayu bakar atau dibakar.



“Dengan adanya kerjasama dalam kegiatan pembentukan ekosistem pusat kreatif selama tiga bulan ini, kami yakin kedepannya akan dapat memberi semangat dan motivasi bagi para pengrajin serta pemerintah daerah guna melanjutkan program yang ada dan terus mengembangkan industri kreatif kerajinan limbah kayu jati ini,” jelas Sjarif Sajang.

Deputi Infrastruktur Bekraf, Hari Santosa Sungkari mengungkapkan, bahwa melalui pelatihan dan pendampingan yang digelar di Kabupaten Konawe Selatan tersebut akan memberi harapan baru bagi para perajin yang terlibat dan mampu menangkap potensi kerajinan kerajinan limbah kayu jati di Konawe Selatan ini sangat besar dan bagus.

“Hari ini adalah bukti bahwa para perajin yang terlibat dalam program ini telah menunjukkan kemahirannya serta mampu menghasilkan karya-karya yang tak kalah dengan perajin profesional di daerah lain. Dan yang sangat menggembirakan bagi kami dan tentu juga para perajin, karya-karya mereka pada bulan ini juga telah dipamerkan di Pasar Akhir Pekan SCBD Jakarta,” jelas Hari S Sungkari.

Ditambahkannya, dengan ekosistem yang sudah dibentuk dengan baik, harapannya ke depan ekonomi kreatif di Kabupaten Konawe Selatan akan tumbuh dengan baik dan matang menjadi sebuah industri  mulai dari hulu hingga hilir. Jika itu bisa terjadi, kedepannya tentu sangat bagus untuk dapat mengembangkan ekonomi kreatif secara khusus di Kabupaten Konawe Selatan dan sekitarnya serta secara menyeluruh di Indonesia.

Sukirno, jebolan ISI, seorang perajin yang juga mentor untuk kerajinan berbasis kayu dan selama tiga bulan melakukan pembinaan serta pendampingan dalam program ini menjelaskan bahwa, para basic para perajin yang ikut dalam program ini secara skill sudah menguasai, sehingga mempermudah tugasnya untuk mengajak bersama-sama berubah menjadi yang lebih baik dari sisi kreasi.

“Kalau selama ini mereka bergelut dengan pembuatan mebel lalu dijual guna memenuhi kebutuhan sehari-harinya dimana limbah kayu jati sisa bahan mebel dibakar, kini saya tantang bagaimana para perajin yang ada mampu menciptakan ragam produk kerajinan dari limbah kayu yang ada dan sangat banyak di Konawe Selatan dengan hasil yang bisa diakui dan diterima masyarakat Indonesia maupun internasional.” jelas Sukirno.

Lebih jauh ia berharap, setelah suksesnya Program Fasilitasi Pembentukan Ekosistem Pusat Kreatif di Konawe Selatan selama tiga bulan ini. Kedepannya diharapkan, pemerintah daerah memiliki kesamaan semangat untuk meneruskan dan menyukseskan pembentukan ekosistem pusat kreatif kerajinan limbah kayu jati ini dengan senantiasa melakukan pembinaan dan pendampingan. (Achmad ichsan)

About eddy Purwanto

Check Also

Mengenal Sarung Tenun BHS

Sarung BHS adalah Sarung Tenun yang ditenun menggunakan Tenun Tangan atau yang biasa dikenal dengan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: