Keris Pusaka Warisan Budaya Nusantara
Keris Pusaka Warisan Budaya Nusantara

Keris, Pusaka Warisan Budaya Nusantara

Kebudayaan bagian dari umat manusia yang diwariskan melalui proses pembelajaran yang dilestarikan serta berkembang dalam masyarakat secara tradisional. Indonesia adalah bangsa yang memiliki warisan budaya baik berupa warisan benda maupun warisan non benda, salah satu contohnya keris pusaka Keris.

Keris merupakan salah satu benda pusaka yang bukan sekadar dijadikan sebagai senjata untuk mempertahankan diri tetapi juga sebagai benda yang memiliki nilai sejarah budaya. Desain sebuah keris memiliki berbagai keunikan yang sangat spesifik, setiap lekuk yang begitu detail pada bagiannya memuat kandungan makna-makna sosial, historis, filosofis, mistis dan religius.

Sebilah keris dapat menggambarkan karakteristik kearifan lokal, terutama masyarakat jawa yang menjadikan keris sebagai simbol kekuatan. Keris sebagai karya seni yang agung dan warisan budaya asli dari Bangsa Indonesia telah terdaftar dan diakui oleh UNESCO.

Secara fisik keris memiliki berbagai macam bentuk, misalnya ada yang bilahnya berkelok-kelok (selalu berbilang ganjil) dan ada pula yang berbilah lurus. Masyarakat di pulau Jawa menganggap perbedaan bentuk ini memiliki historis yang berbeda-beda.

Penggunaan keris di nusantara telah tersebar di seluruh pelosok negeri mulai dari masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya hingga Majapahit, yang meliputi jajaran kepulaun Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatera, pesisir Kalimantan, sebagian Sulawesi, dan Semenajung Malaka.

Selain dipergunakan sebagai alat pertahanan diri, keris diyakini memiliki kekuatan supranatural yang diterapkan dalam berbagai kegiatan ritual yang tradisional. Sering juga dijadikan media penghantar untuk memuji dan memohon kepada pencipta alam semesta, agar mendapatkan kesejahteraan, kebahagian dan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Keris dipandang memiliki nilai luar biasa sebagai karya agung ciptaan manusia, telah mengakar pada tradisi budaya dan sejarah masyarakat Indonesia, yang berperan sebagai jati diri bangsa, sumber inspirasi budaya.

Bentuk keris banyak memiliki arti, gagang keris menunjukkan landasan hidup bagi umat manusia, tanjamnya dua sisi keris menunjukkan bagaimana tajamnya kehidupan di dunia dan bekal akhirat yang dimiliki pengguna keris. Lekukan pada keris menandai tantangan hidup yang penuh romantika hidup pada kehidupan yang nyata dan wajib hukumnya untuk di jalani, sedangkan tanjamnya ujung keris memberi makna mampu menajamkan diri, dalam hal tata peribadatannya kepada sang pencipta alam semesta.

Pembuatan Keris
Keris yang baik harus dibuat dan ditempa dari tiga macam logam, minimal dua, yakni besi, baja dan bahan pamor. Contoh pada keris-keris tua, seperti keris Buda dari masa periode pra Kerajaan Singasari menggunakan baja. Sedangkan keris yang dibuat dari kuningan, seng, dan bahan logam lainnya, tidak dapat digolongkan sebagai keris. Apalagi keris yang dibuat bukan dengan cara ditempa, melainkan dicor, atau yang dibuat dari guntingan drum bekas aspal, maupun material lainnya seperti kayu dan plastik bukan termasuk pusaka keris melainkan hanya sebagai benda aksesoris atau hiasan yang serupa dengan keris.

Untuk pegangan keris bisa terbuat dari jenis logam, kayu maupun gading gajah yang beragam dari motifnya. Seperti gagang keris yang berasal dari daerah Bali berbentuk menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari, pertapa, hutan dan ada yang diukir dengan emas dan batu mulia.

Bagian lain dari keris adalah wrangka atau rangka sarung keris yang merupakan bagian keris yang mempunyai fungsi melindungi keris bila tidak dipergunakan. Bagian wrangka dibuat dari bahan kayu jati, cendana, timoho, kemuning. Berdimensikan ukiran-ukiran yang mampu mengidentifikasikan keris tersebut berasal dari daerah tertentu. Sarung keris mampu memberikan informasi terhadap status sosial pemiliknya yang terlihat dari jenis logam yang dibuatnya apakah dari logam mulia yang terbungkus ukiran bermotif atau dari bahan seng.

Bagian lainnya dari keris adalah wilah atau wilahan bagian dari badan keris dan pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja. Di tengah badan keris terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan keris sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan.

Satu hal lagi dari tubuh keris yang disebut Luk, yakni bagian yang berkelok dari wilah keris, dan terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang wilahnya berkelok-kelok atau luk. Untuk menghitung luk pada keris dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap. Dan bila ada yang melebuhi jumlah 13 luk, maka dikenal dengan sebutan keris kalawija atau keris tidak lazim.

Badan keris pada umumnya memiliki ukiran yang dipahat secara manual, bermotif seperti badan ular naga, dan motif lainnya yang menunjukkan suatu kekuatan magis tersendiri. Ukuran panjang bilah keris yang lazim adalah antara 33 – 38 cm. Beberapa keris luar Jawa bisa mencapai 58 cm, bahkan keris buatan manusia atau sang empu ini, dibuat panjangnya mencapai 64 cm. Yang terpendek adalah keris Buda dan keris buatan Nyi Sombro Pajajaran, yakni hanya sekitar 16 – 18 cm.

Proses kegiatan dalam pembuatan keris atau dikenal dengan istilah Langgam/gaya pembuatan suatu keris dipengaruhi oleh zaman, tempat tinggal dan selera empu yang membuatnya. Dan didalam karakteristik perkerisan Jawa, langgam keris yang terproses dari waktu dan tempat termasuk kedalam dedikasi yang tangguh. Sebagai arti”perkiraan”, yakni perkiraan suatu keris mengikuti gaya suatu zaman atau tempat tertentu. “Penangguhan” keris pada umumnya dilakukan terhadap keris-keris pusaka, meskipun keris-keris baru dapat juga dibuat mengikuti tangguh tertentu, tergantung keinginan pemilik keris atau empunya.

Melihat komposisi keris merupakan hasil perkembangan senjata tikam di Pulau Jawa, maka proses perkembangannya juga mengikuti jatuh dan berdirinya kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa, serta hal ini melibatkan sang empu yang termuat dalam tradisi lisan sebelum abad ke-20 yang dipakai sebagai tolak ukur karakteristik penjiwaan keris di Nusantara.

Seiring sejalan dengan perkembangan kebudayaan fungsi keris mengalami perkembangan dan perubahan berdasarkan pemahaman para regenerasi yang telah mewarisi karya seni budaya. Perubahan itu terlihat pada keris yang semula merupakan senjata menjadi barang keramat yang dihormati, barang yang dipuja lambang ikatan keluarga, tanda jasa, tanda pangkat atau jabatan, barang mewah, dan akhirnya dianggap sebagai karya seni. Akan tetapi esensi dari nilai sejarah, nilai filosofi serta sifat tradisionalitas yang dimiliki pusaka keris tetap melekat sepanjang jaman.

About eddy Purwanto

Check Also

Target 750 Startup Digital Tumbuh di Indonesia

Pemerintah menargetkan bisa menumbuhkan 750 wirausaha baru berbasis teknologi informasi, atau startup digital setiap tahun. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: