Ketika Dunia Seni Berjejaring dengan Dunia Lisensi dan NFT

Pada prakteknya, selama ini seniman telah melakukan lisensi secara tradisional. Dimana mereka diberi royalti berdasarkan harga jual produk dan atau kuantitas yang dijual. Seperti misalnya karya gambar mereka digunakan sebagai salah satu motif atau design di sebuah produk lainnya. Demikian juga bagi para musisi dan produser musik yang karyanya digunakan oleh pihak ketiga dengan tujuan komersil.

Bagi para seniman yang baru pertama kali mengenal konsep lisensi dan NFT pasti penuh dengan pertanyaan untuk dapat lebih memahaminya, seperti apa itu tepatnya lisensi dan NFT, bagaimana cara kerjanya, dan apa dampaknya bagi karya mereka.

Lisensi adalah pemberian izin atau penyerahan hak atau sesuatu dari pihak pencipta yang menciptakannya pertama kali dan memiliki hak paten atasnya kepada pihak lain yang akan melakukan produksi atas suatu produk atau jasa tertentu.

Sedangkan NFT atau Non Fungible Token adalah aset digital yang mewakili obyek dunia nyata seperti seni musik, item dalam sebuah game, video, hingga gambar yang dianggap unik. Pencipta aset kemudian dapat menjualnya dan melacak siapa yang memilikinya menggunakan blockchain.



Karya kemudian menjadi seni yang relevan dan dihubungkan dengan produsen juga konsumen pengguna akhir yang bersedia membayar untuk produk yang menampilkan seni tersebut. Peran dari karya seni pada produk itu menjadi ‘untuk menjual produk’.

Untuk mengetahui jelasnya bagaimana lisensi dan NFT dapat menjadi cara baru bagi para seniman memperkenalkan karya-karyanya dan bahkan dapat membuat komersialisasi dengan baik, yuk ngobrol santai dengan Bapak Robby Wahyudi dari Katapel ID di tanggal 12 November 2021 melalui aplikasi Zoom. Untuk meeting zoom ini dapat menghubungi @aku.geibby atau kontak: 082110148200

Geibby mengatakan bahwa baik Lisensi maupun NFT adalah dua dunia yang terhubung dengan Intellectual Property, atau Hak Kekayaan Intelektual yang terkomersialisasi. Tiga ‘dunia’ yang sangat erat kaitannya.

“Kenapa sebuah karya seni yang dihasilkan berbulan-bulan atau bahkan tahunan memiliki nilai tukar sebuah karya dapat menjadi begitu mahal?”ungkap Geibby, panitia pelaksana, “Seniman dapat menyematkan NFT pada karya seninya dan mematok harga untuk setiap NFT yang diperjual belikan, sedangkan lisensi adalah salah satu cara para seniman dapat mengkomersialisasi setiap karyanya dengan lebih baik lagi” lanjutnya pada pada suatu wawancara.*

About eddy Purwanto

Check Also

Galeri Nasional Indonesia Tambah Kuota Kunjungan

Merespons PPKM level 1 di wilayah DKI Jakarta, Galeri Nasional Indonesia (GNI) menambah kuota kunjungan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *