Home / Inspiration / Keunikan Rumah Adat Sulah Nyanda

Keunikan Rumah Adat Sulah Nyanda

Keunikan dan kekhasan rumah adat suku Baduy di wilayah Provinsi Banten yang menjaga keseimbangan alam dan tata nilai tradisi dapat menjadi inspirasi dalam pengembangan pemukiman di era modern.

Rumah adat masyarakat suku Baduy di wilayah Provinsi Banten yang dikenal dengan nama Sulah Nyanda memilki keunikan dan kekhasan tersendiri. Atap rumah adat ini terbuat dari daun nipah yang disebut sulah nyanda. Nyanda berarti sikap bersandar, sandarannya tidak lurus melainkan agak merebah ke belakang. Sulah nyanda biasanya, dibuat lebih panjang dan memiliki kemiringan yang lebih rendah pada bagian bawah rangka atap.

Rumah adat Baduy dibangun berhadap-hadapan dan depannya menghadap ke selatan atau utara. Bentuknya empat persegi panjang, dengan atap kampung dan sosoran dipasang di salah satu sisinya. Selain itu, rumah adat ini memiliki hiasan di atas atap rumah yang menyerupai bentuk tanduk. Hiasan tersebut, terbuat dari ijuk (sabut aren) yang dibulatkan dan diikat.

Pembuatan rumah adat Sulah Nyanda mengikuti kontur tanah, sehingga tiang-tiang rumah adat ini tidak memiliki ketinggian yang sama. Keunikan dan kekhasan budaya suku Baduy ini, yang menjadi salah satu daya tarik wisata unggulan di Banten.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten Eneng Nurhayati, daya tarik wisata unggulan di Banten diantaranya Cisadane, Banten Lama, Anyer-Carita, Ujung Kulon, Tanjung Lesung, Baduy dan Sawarna. Informasi wisata unggulan Banten bisa dilihat di anjungan Banten di TMII yang yang menampilkan bangunan rumah adat, pakaian tradisional, kuliner khas, dan replika destinasi wisata.



Salah satu keunikan dari masyarakat suku Baduy adalah memiliki pola pemukiman klaster, artinya kumpulan rumah terpusat dalam wilayah yang dibatasi dengan pagar alam. Pagar alam ini, diletakkan mengelilingi kampung sekaligus sebagai batas antar wilayah pemukiman dan hutan.

Pemukiman suku Baduy berpaku pada letak rumah Puun (rumah ketua adat) yang berada di arah selatan, sehingga rumah warga tidak berada di belakang atau di samping rumah Puun tapi berada di depan rumah Puun.

Rumah Puun berhadapan langsung dengan Balai Adat. Balai Adat ini berfungsi untuk melaksanakan berbagai kegiatan adat, seperti rapat adat, prosesi sunatan, prosesi lamaran. Sedangkan, Saung Lisung (balai untuk menumbuk padi) berada di belakang sebelah kanan Balai Adat.

Rumah adat Sulah Nyanda tidak memiliki jendela, namun memiliki lubang berbentuk kubus atau persegi dengan ukuran yang beragam tiap rumah tidak sama. Perkiraan ukurannya lebih kurang 10 cm x 10 cm, atau 10 cm x 15 cm. Lubang tersebut dipergunakan untuk memantau keamanan lingkungan rumahnya. Rumah adat Sulah Nyanda hanya memiliki satu pintu ke luar masuk yang disebut dengan Panto.

Pemukinan suku Baduy dikelilingi hutan dengan beragam tumbuhan, antara lain pohon durian, tumbuhan untuk pengobatan, pohon bambu yang tumbuh di pinggir kanan kiri sungai. Rumah adat Sulah Nyanda merupakan rumah panggung yang kebanyakan menggunakan bahan bambu.

Bilik rumah dan pintu rumah terbuat dari anyaman bambu yang dianyam secara vertikal. Teknik anyaman tersebut dikenal dengan nama Sarigsig tersebut, dibuat berdasarkan perkiraan, tidak diukur terlebih dahulu. Kunci rumah dibuat dengan memalangkan dua buah kayu yang ditarik atau didorong dari bagian luar rumah. (Ahmad Jauhari)

About eddy Purwanto

Check Also

Eksotisme Flores dalam Selembar Tenun

Menenun sarung memang sudah membudaya di kalangan kaum perempuan di Flores. Bahkan, ada ungkapan bahwa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: