Home / Art / Lukisan Tiga Dimensi Dari Limbah Serbuk Gergaji

Lukisan Tiga Dimensi Dari Limbah Serbuk Gergaji

Awalnya hanya ingin memanfaatkan limbah serbuk gergaji, agar memiliki nilai tambah. Tapi tak dinyana, setelah melakukan ekperiman pembuatan karya seni lukis tiga dimensi hasilnya luar biasa.

Abu Djumhur merupakan perajin yang karyanya selalu menarik perhatian para pengunjung pameran. Kini, ia menunjukan kebolehannya membuat lukisan yang yang bergaya unik sebuah karya seni tiga dimensi dengan menggunakan limbah serbuk gergaji.

Awalnya, pengakuan perajin gaek asal Bandung itu hanya terlintas ide bagaimana bisa menjadikan limbah menjadi suatu barang berharga dapat meningkatkan valuenya. Setelah lima tahun melakukan ekperimen dan menggali kelebihan dari sejumlah limbah, akhirnya Abu Djumhur memilih limbah serbuk gergaji dengan ranting bambu sebagai bahan baku dari karya seninya.

“Saya mencoba dengan melekatkannya di atas kanvas kemudian melukis obyek yang sifatnya dekoratif dengan cat warna, tak disangka bisa menjadi sebuah karya seni lukis tiga dimensi,” cerita Kang Abu nama julukannya.

Pelukis yang telah menggeluti berbagai gaya lukisan itu mengaku, baru menekuni gaya lukisan tiga dimensi ini sekitar satu dekade belakangan. “Sebelumnya saya seperti pelukis lain, mencurahkan ide dalam berbagai bentuk. Saya sempat mencoba gaya lukisan realis dan abstrak sebelum akhirnya memutuskan fokus pada bentuk yang sekarang,” demikian penuturan pelukis asli Bandung itu, saat dijumpai di event Inakraft 2017 lalu.



Pelukis yang berpenampilan ala ustad mengenakan sorban itu mengaku, belum merasa puas dengan gaya lukisan inovasinya yang menggabungkan seni artistik antara bentuk ranting bambu dengan aneka cat warna yang dilekatkan diatas kanvas itu. “Saya membutuhkan waktu lama untuk mengeksplorasi karya seni tiga dimensi tersebut, dan tidak akan berhenti sampai disini saya mau terus mencoba lagi karya seni baru lain,” begitu pengakuan pemegang rekor MURI Lukisan Terbesar di Payung Tradisional Sunda itu.

Kang Abu menyayangkan tak banyak perajin yang peduli pada bambu. Padahal tanaman ini diakui banyak kelebihannya. “Banyak orang gengsi pakai bambu. Padahal ini bahan asli Indonesia. Selain itu, saya bisa mendapatkan warna-warna khas hijau dari tanaman ini,” ujar Nominator West Java Painting Competitionitu.

Pemenang Kompetisi Kaligrafi Islam Jawa Barat 1982 dan Juara II Lomba Logo Ultah Bandung ke 200 itu mencoba memaparkan filosofi bambu. “Ketika ditanam dalam usia yang sangat muda, bambu memang terkesan tidak cepat tumbuh seperti tanaman lain,” ungkapnya.

Hal itu terjadi, jelasnya lagi, karena bambu ‘sibuk’ memperkuat pondasinya. “Kita bisa lihat ketika ada angin besar, bambu paling bisa bertahan dibanding tanaman lain yang mudah roboh,” tukas Kang Abu.

Lukisan bergaya tiga dimensi ala Abu Djumhur yang unik ini terbukti mendapat apresiasi dari para penikmat karya seni rupa. Dan, sudah memiliki penggemar tersendiri baik dari dalam negeri, maupun dari mancanegara meliputi para kolektor di kawasan Asia, Belanda, Australia, dan Jerman. (Adyan Soeseno)

About eddy Purwanto

Check Also

Songket Warna Alami Makin Diminati

Makin banyak perajin kain songket yang menggunakan warna alami karena memang lebih menguntungkan dan lebih …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: