Membatik Tak Hanya di Atas Kain

Makin berkembangnya teknologi dan pengetahuan, makin variatif pula produk kerajinan yang dihasilkan. Kini, membatik tidak hanya bisa dilakukan di atas kain, tetapi juga kayu, bambu, gerabah, ataupun keramik.

 

 

Tidak salah memang jika Yogyakarta dijuluki sebagai kota sejuta ide kreatif. Berbagai inovasi terus dihasilkan dalam menciptakan produk kerajinan baru, salah satunya batik yang ditorehkan pada media kayu.

Sekitar 15 kilometer atau 30 menit perjalanan dari kota tepatnya di Dusun Krebet, batik kayu lahir dan berkembang. Sanggar Peni, misalnya, didirikan oleh Bapak Kemiskidi sejak tiga dekade lalu bersama para kerabatnya. Ialah yang telah merintis lahirnya batik kayu di desa tersebut.

Membatik di atas kayu sudah menjadi kecakapan masyarakat Kota Gudeg, tepatnya di Dusun krebet. Batik kayu yang mereka hasilkan sangat beragam mulai dari topeng, miniatur binatang, miniatur furnitur, dan pernak-pernik lainnya dengan dihiasi berbagai motif yang cantik dan menarik. Pada prinsipnya, proses membatik pada media kayu pun hampir sama dengan membatik di atas kain. Hanya saja medianya diganti menjadi kayu.

Jenis kayu yang digunakan sangat beragam. Berbeda jenis kayunya, berbeda pula hasil yang didapatkan. Kayu yang biasanya digunakan sebagai bahan dasar ialah kayu lunak, seperti sengon atau albasia, pule, wadang, jenetri, kuso, dan mahoni. Kayu-kayu tersebut dipilih karena tidak keras, mudah dibentuk, mudah menyerap cairan (pewarna), dan tidak berminyak.

Hasil batik kayu pun tampak lebih bagus dan warnanya putih atau lebih indah daripada bahan dasar kayu yang keras seperti kayu jati. Kayu sebagai bahan batik kayu harus mudah didapat dan mudah untuk direboisasi kembali dengan umur kayu layak tebang hingga umur 2 hingga 3 tahun.

Menariknya, kayu yang mereka gunakan merupakan hasil dari hutan atau kebun dari daerah mereka sendiri. Dengan begitu, biaya produksi yang mereka keluarkan juga bisa mereka pangkas untuk keperluan lainnya.

Proses Pembatikan di Kayu

Pembuatan batik kayu masih menggunakan metode tradisional dengan alat-alat tradisional pula, sehingga hasil yang didapatkan sangat naturalis dan khas. Alat modern yang mereka gunakan hanya berupa pemotong kayu dan penghalus kayu. Desain dibuat sendiri oleh perajin. Kini, sudah ratusan desain yang mereka buat.



Desain utama dari batik kayu ini, yaitu jlereng, kawung, sogo, serta desain kembang yang motifnya divariasi atau digabung-gabungkan. Motif lainnya juga muncul dari kreasi perajin sendiri ataupun motif yang disesuaikan dengan permintaan pasar.

Jika sudah mendapatkan model kayu yang Anda inginkan, langkah selanjutnya ialah haluskan kayu dengan amplas 2 sampai 4 kali hingga permukaan kayu benar-benar halus. Setelah dihaluskan, lalu bersihkan kayu untuk siap pada proses pembatikan.

Proses membatik diawali dengan pembuatan desain batik yang dikehendaki pada bahan baku. Setelah proses desain pada bahan baku kayu dengan menggunakan pensil, baru kemudian menuju proses pembatikan dengan menggunakan bahan baku malam.

Dalam penggunaannya, malam tersebut harus dalam keadaan cair. Caranya dengan memanaskan malam dalam wajan kecil atau biasa disebut canting di atas kompor kecil. Untuk proses pewarnaan batik kayu ini, bahan yang digunakan ialah zat warna naptol dan indogosol.

Saat proses pewarnaan dengan menggunakan zat naptol, tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung karena warna menjadi pudar. Sebaliknya, zat warna indogosol membutuhkan sinar matahari untuk menimbulkan warnanya. Kemudian untuk menetapkan warnanya, gunakan larutan HCL dengan cara dicelupkan. Pemberian warna pada batik kayu ini tergantung pada beberapa kombinasi warna yang diinginkan.

Proses selanjutnya ialah pengeringan dengan dijemur di tempat terbuka. Diamkan agar malam tersebut benar-benar menempel di permukaan kayu. Lantas, dilanjutkan dengan proses pelorotan malam yang menggunakan cairan HCL, soda kostik, TRO atau turkish red oil, dan soda abu untuk menguatkan warna. Batik kayu tersebut dicuci dengan air tawar sampai benar-benar bersih dari kotoran-kotoran dan larutan HCL. Lalu, dilanjutkan dengan penjemuran hingga kayu benar-benar kering.

Finishing pada Batik Kayu

 

Finishing pada batik kayu mengunakan bahan aqua laker. Sementara itu untuk bahan yang fungsional seperti mangkok, piring, atau sendok, menggunakan bahan khusus yang aman untuk kesehatan. Batik kayu yang memerlukan tambahan aksesori seperti figura atau patung bisa dilengkapi dengan aksesori kaca agar tampak makin cantik.

 

Selanjutnya, kerajinan ini siap dikemas dalam kardus atau dipajang di galeri. Bila akan dikemas, berikan dulu kertas rumput sebagai pelindung agar aman dari gesekan saat pengiriman barang agar tidak rusak atau cacat. (Adyan Soeseno)

 

About Achmad Ichsan

Check Also

Peluang Ekspor Produk Furniture Indonesia

Industri furnitur masih menjadi salah satu andalan dalam mendukung perekonomian nasional. Industri ini mampu menyerap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: