Menangkap Peluang Pasar Mebel dan Kerajinan Kayu

Kehadiran Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) rupanya membuka peluang besar bagi pasar ekspor produk mebel dan kerajinan kayu Indonesia.

Pasar Eropa sangat berminat terhadap produk kayu Indonesia setelah diterimanya lisensi Forest Law Enforcement Governance and Trade Voluntary Partnership Agreement (FLEGT-VPA) yang menjamin kayu dan produk kayu yang diekspor dipanen secara legal. Pelaku usaha mebel dan kerajinan kayu Yogyakarta menyatakan, Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN atau MEA membawa peluang besar bagi pasar ekspor jenis usaha ini.

Menurut pengurus Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia, Heru Prasetyo, pelaku usaha mebel dan kerajinan tidak risau dengan hadirnya MEA. Ia menegaskan, Indonesia memiliki keunggulan bahan baku lokal untuk produk mebel. “Produk mebel menjanjikan dan sekarang sedang di atas angin,” kata Heru Prasetyo. Ia bahkan pernah kewalahan untuk memenuhi pesanan pasar karena kapasitas produksi yang terbatas.

Sementara itu, Ketua DPD Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Yogyakarta, Timbul Raharjo, menegaskan, sektor mebel dan kerajinan di Yogyakarta memiliki kontribusi yang cukup signifikan sebagai salah satu industri unggulan ekspor setelah tekstil. Karena itu, HIMKI siap mendongkrak ekspor mebel dan kerajinan yang merupakan industri padat karya yang banyak menyerap tenaga kerja.

Timbul Raharjo menyebutkan, ekspor mebel dan kerajinan dari Yogyakarta terus meningkat berkat program kreatif dan inovatif yang terus dilakukan. Peningkatan ekspor mebel dan kerajinan Yogyakarta didorong oleh perbaikan ekonomi global dan negara mitra dagang, terutama dengan tujuan Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.

Optimisme yang sama dalam mencermati peluang ekspor juga dimiliki para pelaku usaha mebel dan kerajinan yang tergabung dalam HIMKI Solo Raya. Menurut Ketua HIMKI Solo Raya, Adi Dharma Santoso, para eksportir mebel dan kerajinan di Solo optimistis di tahun mendatang memiliki banyak peluang. Capaian nilai ekspor pada akhir 2017 mencapai lebih dari US$968 ribu di atas tahun sebelumnya yang berada di bawah US$700 ribu.

Untuk meningkatkan pasar dan menghadapi persaingan yang ada, para pelaku usaha dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif terkait desain dan pemilihan bahan baku. Menurut Adi Dharma, selain potensi ekspor, potensi dalam negeri yang masih terbuka juga perlu dikembangkan karena jumlah penduduknya sangat besar. Pembangunan infrastruktur juga mendukung pembangunan properti sehingga dapat menggenjot kebutuhan mebel.



Sementara itu, Jepara sebagai salah satu sentra industri kerajinan mebel terbesar di Indonesia juga terus mengalami peningkatan ekspor. Nilai ekspor mebel Jepara US$110 juta pada 2016 meningkat menjadi US$150 juta pada 2017. Jumlah ekspor mebel dari Jepara merupakan 10 persen dari total ekspor nasional US$1,5 miliar. Menurut Herry Purnomo, Project Leader di Center for International Foresty Reseach, nilai ekspor dari Jepara tetap tinggi meski dunia mebel mulai kesulitan pekerja.

Angka ekspor mebel Jepara yang cukup tinggi tidak lepas dari banyaknya para perajin ukir yang bertahan di Jepara. Pada 2007, perajin ukir dari Jepara mencapai 15.000 perajin. Jumlah tersebut mulai menurun hingga menjadi 11.481 perajin pada 2010. Menurunnya jumlah perajin tidak lepas dari seleksi alam, serta banyaknya spekulan di industri tersebut. Sejak Sistem Verifikasi Legalitas Kayu diberlakukan, jumlah pemain mebel lebih kelihatan karena para spekulan terkena seleksi alam.

Membidik Ekspor US$2,5 Miliar
Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM) Kemenperin, Gati Wibawaningsih, optimistis industri mebel dan kerajinan nasional terus tumbuh dan berkembang. Target nilai ekspor mebel dan kerajinan pada 2018 diharapkan mencapai US$2 miliar atau meningkat dibanding 2017 sebesar US$1,06 miliar, dan pada 2019 diharapkan dapat mencapai US$2,5 miliar.

Menurut Gati Wibawaningsih, pelaku IKM mebel dan kerajinan di sejumlah sentra industri mampu menghasilkan produk berdaya saing di pasar dalam negeri dan menembus pasar ekspor. Di Surakarta, telah berdiri Omah Mebel dan Kerajinan yang diharapkan dapat meningkatkan promosi serta pemasaran produk IKM mebel dan kerajinan asal Jawa Tengah di kancah global, sehingga memberikan kesempatan kepada pembeli potensial untuk melihat dan menegosiasikan bisnis dengan para pelaku IKM.

Peserta yang mengisi rumah promosi Omah Mebel dan Kerajinan tersebut ialah IKM mebel dan kerajinan binaan Kemenperin yang tergabung dalam anggota Koperasi Industri Mebel dan Kerajinan Asal Solo Raya (KIMKAS). “Jadi, rumah ini merupakan kolaborasi antara Kemenperin, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kota Surakarta, KIMKAS, dan Bank Rakyat Indonesia,” ungkap Gati Wibawaningsih.

Dalam acara pembukaan Omah Mebel dan Kerajinan, Ditjen IKM memfasilitasi mesin pengering kayu pada KIMKAS, memfasilitasi mesin peralatan kayu pada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan memfasilitasi mesin peralatan kerajinan logam pada Pemerintah Kabupaten Boyolali. Ditjen IKM juga memfasilitasi mesin peralatan pengolahan kayu pada Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, dan memfasilitasi penunjang produksi IKM cangkul di Klaten.

Menurut Gati Wibawaningsih, peningkatan ekspor tidak hanya melalui promosi, tetapi juga peningkatan daya saing. Karena itu, produktivitas mebel dan kerajinan harus ditingkatkan. Para perajin juga harus menciptakan inovasi baru agar mampu bersaing dengan produk dari negara lain. Selama ini, pasar ekspor mebel dan kerajinan Indonesia terbesar ialah Amerika Serikat disusul Eropa, Asia, Australia, Afrika, dan Amerika Selatan. (Ahmad Jauhari)

About eddy Purwanto

Check Also

Dibutuhkan Dorongan ASEPHI untuk Kerajinan Sumatera Barat

Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) diharapkan mampu mendorong kemunculan produk lokal Sumatera Barat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: