Home / Headlines / Menganyam Laba dari Limbah Plat Plastik

Menganyam Laba dari Limbah Plat Plastik

Plat plastik dianyam hingga terbentuk beragam kerajinan. Bahkan setelah didaur ulang, kerajinan ini memiliki tampilan baru dan mengandung nilai jual tinggi. Beberapa perajin mengaku, bisnis ini memberikan keuntungan berlipat.

Bahan plastik ini memiliki ketebalan satu sampai dua milimeter, lebar satu hingga tiga sentimeter, dan panjang tertentu. Sebagian perajin menyebutnya plat plastik. Ada pula yang menamainya sebagai tali plastik. Namun, pada prinsipnya sama yakni sebuah produk dari plastik dengan ukuran tertentu untuk mengemas atau mengikat kemasan dalam ukuran besar.
Bahan ini disebut tali plastik karena produk limbah dengan warna gradasi hijau terang dan hijau gelap ini juga digunakan untuk mengikat peti kemas di pabrik tekstil. Namun jika menyebutnya sebagai tali, yang terbayangkan ialah produk ini berkarakter lemas, atau setidaknya dapat digulung seperti kabel atau tali rafia. Karena itu, bahan ini selanjutnya disebut dengan plat plastik saja.
Dalam ukuran tunggal, plat plastik ini cukup keras sehingga membutuhkan tenaga dan peralatan ekstra untuk memotongnya. Setelah tidak digunakan lagi untuk mengikat peti kemas, plat plastik ini dapat dipakai untuk berbagai keperluan dan penggunaan.
Bagi yang kreatif, bentuk tunggal plat plastik memiliki ukuran yang sama mengingatkan pada bilah bambu yang keras sekaligus liat. Karena terinspirasi oleh bilah bambu, sebagian perajin mendaur ulang plat plastik menjadi kerajinan anyaman dengan nilai jual berkali lipat.
Perajin menuai keuntungan berlipat
Plat plastik tersebut dianyam dengan berbagai bentuk, di antaranya sebagai keranjang sampah, pot bunga, parsel, keranjang motor, pengki, tas belanja, meja kursi, bale-bale, hingga bangunan gazebo tanpa perlu menggelar tikar atau alas lain untuk duduk-duduk di atasnya. Setelah didaur ulang dalam bentuk-bentuk baru, plat plastik memiliki tampilan baru dan mengandung nilai jual tinggi.
Plat plastik setelah dianyam menjadi keranjang sampah, misalnya, dijual dengan harga Rp25 ribu, pengki Rp25 ribu, dan keranjang motor Rp170 ribu. Sementara itu, meja kursi dibanderol Rp1,7 juta per set dan gazebo Rp5 juta. Saat ini, perajin limbah plat tali peti kemas ini terdapat di Kudus dan Probolinggo.
Produk hasil daur ulang limbah plat ini dijual secara eceran dan partai besar. Sekolah, balai desa, dan kantor-kantor dinas pemerintah daerah merupakan pelanggan partai besar. Selain mengerjakan secara pesanan, setiap hari para perajin mengerjakan kerajinan daur ulang plat plastik dengan kreasi berbagai produk untuk memasok toko kelontong.
Harga bahan baku bekas plat plastik peti kemas dibeli per kilogramnya sebesar Rp5 ribu. Saat ramai pembeli, perajin bisa mendapat hasil Rp8 juta sebulan. Sementara itu saat permintaannya biasa saja, pendapatan sebesar Rp2 juta bisa masuk ke kantong perajin.
Bisnis kerajinan mampu berkembang pesat

Seorang perajin asal Kota Kudus, Jawa Tengah, Agil, mengakui bahwa bisnis daur ulang plat plastik ini telah memberinya rezeki yang banyak. Dengan modal Rp200 ribu untuk membeli 40 kilogram limbah plat plastik, setelah berjalan dua setengah tahun, Agil bisa membeli mobil pick-up dan tiga motor untuk operasional bisnis anyaman plat plastiknya. Bisnis yang semula dikerjakannya sendiri, kini telah memiliki lima orang karyawan.



Demikian pula dengan perajin Sutanto dari Probolinggo, Jawa Timur. Ia bahkan sering mengikuti pameran tingkat nasional untuk memperkenalkan produk daur ulang plat plastiknya. Saat dijumpai di Inacraft Fair 2018 di JCC Senayan, Jakarta, Tanto membawa nama atau brand Brunang untuk produk plat plastik kreasinya. Ia bahkan telah berhasil memasarkan produknya hingga ke Sulawesi dan Kalimantan dalam jumlah besar.

Sebagai pengusaha UKM, Sutanto mendapat dukungan dari pemerintah Kota Probolinggo. Bahkan, pemerintah Kalimantan Tengah dan pemerintah Kota Probolinggo melakukan kerja sama di mana pemerintah Kalteng akan menggunakan keranjang sampah daur ulang plat plastik produksi Brunang. Sebanyak dua truk kontainer dipesan untuk menjaga keindahan dan kebersihan di wilayah Kalteng.

Selain mengikuti pameran dan menjual secara konvensional, Tanto juga mengikuti perkembangan teknologi dengan e-dagang yakni memasarkan produknya secara online. Brunang telah memasarkan produknya di media sosial. Dengan hasil karya yang elegan dan desain berkelas, Tanto berkreasi membuat kerajinan dari plat plastik ini untuk keperluan sehari-hari dengan kualitas terjamin dan harga terjangkau. (Susi Agustini)

About Achmad Ichsan

Check Also

Kerjasama Antar Lembaga Penting Bagi Kemajuan ASEPHI

Sebagai wadah perajin dan pengusaha produk kratif kerajinan Indonesia, maka sudah saatnya ASEPHI bekerja lebih …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: