Menuju produk kriya berkualitas ekspor melalui sentuhan desain produk

Jakarta-Indonesia adalah bangsa yang  memiliki potensi keragaman estetika terbesar di dunia, ini bisa terlihat dari hasil sensus penduduk terakhir (versi BPS2010), diketahui bahwa  Indonesia  terdiri  dari  1.128  suku bangsa  –  yang artinya: hampir dipastikan tiap-tiap suku bangsa memiliki keanekaragaman seni budaya tradisi atau adat istiadat bernilai estetis, mulai dari tata-caranya, busananya, perkakasnya, musiknya dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Hal diatas adalah merupakan potensi produk nasional yang dapat meningkatkan salah-satu devisa Negara. Sayangnya masih dikerjakan secara traditional dan turun-temurun, serta kurang ‘up to date’ atau kekinian untuk kehidupan modern. Khususnya produk kriya apabila dikelola secara industri kriya modern, efisiensi, serta sesuai dengan kebutuhan hidup moderen – maka potensi tersebut dapat menjadi salah satu andalan produk ekspor nasional.

Membuat produk kriya berkualitas ekspor dengan sentuhan desain produk perlu beberapa pertimbangan dasar pengembangan desain. Dimana hal ini sangat mempengaruhi hasil desain, kualitas produk, dan nilai daya saing.

  1. Kebutuhan atau Keinginan pasar.

Pastikan bahwa produk yang akan dibuat dan dikembangkan memang sedang dibutuhkan, digemari atau sedang digandrungi konsumen. Perlu ada kegiatan riset tentang pasar tujuan atau target pasar, karena setiap target pasar mempunyai kesukaan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Bila produk yang dibuat tidak sesuai kebutuhan target pasar, sudah dipastikan produk akan gagal bersaing. Hal paling dasar tentang kebutuhan konsumen adalah: Produk berkualitas, Produk berfungsi dengan baik, Produk mudah dipakai, aman dan produk menyenangkan, serta membanggakan.

  • Material

Setelah kebutuhan atau keinginan pasar sesuai dengan produk yang akan dikembangkan, kemudian pilih dan gunakan material ramah lingkungan atau berbasis alam nusantara, seperti: kayu kelapa, limbah kayu jati, rotan, bambu, pandan , dan sebagainya. Saat ini produk ramah lingkungan memang sedang menjadi tren global.

  • Proses

Proses pembuatan adalah hal terpenting agar produk bisa dibuat dengan rapih, kerja cepat, tepat-presisi dan mencapai jumlah yang ditentukan. Penentuan proses pembuatan sangat berkaitan dengan ketrampilan, keahlian, peralatan, standarisasi dan mesin-mesin yang dimiliki. Ketrampilan dan keahlian inilah yang dalam produk kriya sangat bernilai tambah. Buat alur proses produksi yang termudah, hemat kerja, hemat listrik, hemat material, hemat waktu, dan semua efisiensi produksi  –  hingga kapasitas produksi meningkat serta sesuai dengan jumlah permintaan.  Secara keseluruhan proses pembuatan membutuhkan pengawasan extra ketat, karena ini sangat mempengaruhi kualitas desain dan kualitas produk.

  • Biaya

Perkiraan perhitungan biaya produk sudah mulai harus dihitung cermat, biaya material, biaya produksi, biaya pengadaan bahan baku, biaya tetap dan tidak tetap, biaya penyimpanan, biaya promosi, dan biaya-biaya kebutuhan lainnya. Kesemuanya akan berpengaruh pada nilai harga jual produk.

  • Estetika

Keindahan pada dasarnya sangat bersifat individu dan subyektif, namun demikian nilai estetika dapat dibuat objektif dan universal. Lakukan uji cita-rasa dengan membuat beberapa contoh produk  (buat 3 ~ 5 produk) dengan masing-masing beri perbedaan pada warna atau detail lainnya, kemudian lakukan uji cita-rasa ke beberapa orang sekitar agar mendapatkan saran atau persetujuan bentuk mana yang paling banyak digemari. Jangan lupa menambahkan unsur-unsur kekinian sehingga tampil lebih ‘up to date’ dan trendi. Ingat membuat desain produk kriya adalah bukan untuk selera pribadi tapi untuk selera yang sesuai dengan kebutuhan target pasar.

Dengan mempertimbangkan beberapa dasar pengembangan desain produk diatas tersebut, diharapkan para pelaku industri kriya  mampu mengembangkan produk baru berbasis desain yang berdaya-saing tinggi dan diterima pasar ekspor. Kembangkanlah budaya bangsa, jangan hanya melestarikannya

About Achmad Ichsan

Check Also

Pengaplikasian Teknik Manufaktur Tradisional Pada Desain-Desain Baru

Ini bukan pertama kalinya para desainer mencoba mengangkat teknik marquetry. Desainer Bethan Laura Wood yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: