Menyulap Limbah Kaca

Jakarta-Limbah kaca bisa jadi petaka, kerap melukai tangan ataupun kaki. Tapi di tangan perajin kreatif, limbah kaca ini bisa menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai seni tinggi.

Limbah kaca, kini mulai banyak digunakan untuk produk kerajinan. Seperti yang dilakukan oleh rekan-rekan perajin kaca yang menggarap aneka kerajinan vandel, trophy, souvenir, hiasan, miniatur dan kerajinan menggunakan bahan baku limbah kaca, sesuai dengan pesanan kustomer.

Salah satu perajin limbah kaca, bernama Hadi Sutowo, warga Desa Pringombo, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, Lampung. Pemuda ini, dengan gigih memperkenalkan produknya kerajinan limbah kaca, mulai dari desa sampai ke Ibukota, dengan mengikuti berbagai pameran.

Hanya dengan cara sederhana, Hadi menjajakan kerajinan tangannya ini.  Awalnya dia memodifikasi limbah kaca jadi barang bernilai jual tersebut dia peroleh dari mengadopsi kerajinan kaca inlay, yang dapat membentuk macam-macam pola pada kaca.

Tapi, karena besarnya modal yang dibutuhkan untuk usaha kaca inlay, membuat Hadi pesimistis mengembangkan usaha tersebut. Karena modal yang ia miliki minim. Akhirnya pemuda itu berpikir untuk mengembangkan kerajinan kaca dengan modal yang lebih murah, hanya memanfaatkan sampah kaca. “Mengaplikasikan dengan biaya yang paling murah, tapi bisa memiliki nilai jual. Soalnya, untuk kaca patri dan inlay produksinya mahal,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, peralatan yang digunakan untuk kerajinan limbah kaca ini tergolong sederhana. Ia pun hanya dengan memodifikasi mesin pompa air. Selebihnya pemanfaatan lem kaca sebagai perekat dalam membentuk desain yang prima.

Menurut Hadi, kerajinan limbah kaca ini masih menjadi hal yang baru, sehingga masih sulit dalam pemasarannya. Mengenai harga jual, Hadi mengaku, besarannya mengukur dari lamanya waktu pengerjaan satu karya dan tingkat kesulitan. Tapi, rata-rata harga jualnya Rp100 ribu sampai Rp250 ribu.

Ia berharap, mendatang kerajinan limbah kaca tersebut menjadi salah satu produk unggulan dari Provinsi Lampung. Seperti juga perajin limbah kaca di Jakarta, Semarang, Surabaya, Malang dan Bali.

Ada berbagai jenis limbah kaca yang digunakan, antara lain  Kaca bening yang spesifikasinya terdapat beberapa ketebalan, berwarna bening, mengkilap, memantulkan cahaya dengan baik, harga lebih murah. Kemudian kaca Riben, spesifikasi ketebalan bervariasi, berwarna gelap (hitam), dan pemantulan cahaya kurang bagus, mempunyai kesan tegas, harga lebih mahal. Dan Kaca Pirex, dimana kaca jenis ini lebih mahal, karena tahan bakar dan beli utuh.

Perajin limbah kaca ini, mengaku bangga, kelau kerajinan limbah kaca pernah mendapatkan pesanan dari manca negara, seperti dari Timur Tengah, Australia, dan negara tetangga. Tentu saja, dengan harga mencapai jutaan rupiah per pesanan. “Selain produk yang sudah ada contoh produksnya, kami juga siap menerima pesanan sesuai produk yaang dikehendaki kustomer,” ujar Hadi yang optimis produknya banyak diminati masyarakat lokal maupun mancanegara. (Adyan Soeseno) ��->SdY/

About Achmad Ichsan

Check Also

The Tripper Mengusung Konsep Gitar Travel

Tak puas sekadar sebagai konsumen, Indonesia mampu mengukuhkan posisi sebagai produsen gitar yang cukup diperhitungkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *