Monumen, Ruang Publik, dan Hal-hal Lainnya

Sebagai penajaman wacana Pameran Seni Rupa Koleksi Nasional #3 “POROS” di laman galnasonline.id, Galeri Nasional Indonesia akan menggelar Diskusi Monumen, Ruang Publik, dan Hal-hal Lainnya pada Kamis, 26 Agustus 2021, pukul 14.00 WIB, via Zoom dan live Facebook Galeri Nasional Indonesia. Untuk dapat mengikuti acara ini, peserta dapat melakukan registrasi terlebih dulu di tautan https://linktr.ee/galnas. Peserta yang mengikuti acara ini di Zoom akan mendapatkan e-sertifikat.

Diskusi Monumen, Ruang Publik, dan Hal-hal Lainnya akan mengulas lebih dalam tentang konsep kuratorial Pameran Seni Rupa Koleksi Nasional #3 “POROS” yang berfokus pada karya-karya seni rupa di ruang publik, baik di dalam maupun di luar ruangan. Konsep kurasi tersebut kemudian dikaitkan dengan persoalan patung publik/monumen di Indonesia dengan segala kompleksitasnya, interpretasi arti penting keberadaan patung publik/monumen bagi bangsa dan negara Indonesia sekaligus pengaruhnya terhadap perkembangan lingkungan sekitarnya, serta studi tentang masa kini dan masa depan patung publik di Indonesia.

Bahasan ini akan diulas oleh para pembicara yang terdiri atas tiga Kurator Pameran Seni Rupa Koleksi Nasional #3 “POROS” di antaranya Suwarno Wisetrotomo (Kurator, Asisten Direktur 1/Bidang Akademik Pascasarjana ISI Yogyakarta), Rizki A. Zaelani (Kurator), dan Asikin Hasan (Kurator, Pengamat Seni Patung); serta Budi Adi Nugroho (Pengajar FSRD ITB–Seni di Ruang Publik). Sedangkan sebagai moderator adalah Teguh Margono (Kurator Seni Galeri Nasional Indonesia).

Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto berharap diskusi ini dapat menjadi media bertukar informasi atau wacana dari berbagai sudut pandang, terutama tentang persoalan karya seni rupa koleksi negara/nasional di ruang publik.

“Karya seni rupa di ruang publik persoalannya lebih kompleks dibanding karya di dalam sebuah museum atau galeri. Pengaruhnya terhadap lingkungan sekitarnya juga lebih besar. Tentu banyak hal dan beragam bidang yang terkait sehingga membutuhkan banyak pertimbangan, baik dalam hal konsep, pembuatan, penempatan, serta dampaknya,” papar Pustanto.

Melalui diskusi ini, diharapkan karya-karya di ruang publik, khususnya yang merupakan koleksi negara/nasional lebih diperhatikan oleh berbagai pihak baik dalam hal keberadaan, peran, perawatan/perlindungan, serta pemanfaatannya.

TENTANG PEMBICARA



Suwarno Wisetrotomo
Dilahirkan di Kulon Progo, 10 Januari 1962 (karena kesalahan administrasi, di seluruh dokumen resmi tertulis 29 April 1962). Menyelesaikan pendidikan Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta (S1); Pascasarjana (S2) Program Studi Sejarah di Universitas Gadjah Mada; dan (S3) di Program Studi Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada. Menjadi pengajar di Fakultas Seni Rupa, dan Pascasarjana ISI Yogyakarta; di Prodi Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR) Sekolah Pascasarjana UGM. Menjadi Ketua Prodi Seni Program Magister, Pascasarjana ISI Yogyakarta (2015-2020); Menjadi Asisten Direktur 1 (Bidang Akademik) Pascasarjana ISI Yogyakarta (2020-sekarang).

Buku terbaru: KURATORIAL – Hulu Hilir Ekosistem Seni, Penerbit NYALA, Mei 2020. Kemudian buku OMBAK PERUBAHAN – Problem Sekitar Fungsi Seni dan Kritik Kebudayaan, Penerbit NYALA, Juli 2020. Buku KUASA RUPA-KUASA NEGARA: Kurator di Antara Tegangan Pasar dan Kekuasaan, Penerbit Buku Baik, Juli 2021. Aktivitas lain: Menjadi Anggota Dewan Kebudayan DIY (2009-2013); Ketua Tim Juri bidang Seni “Anugerah Kebudayaan” dari Gubernur DIY (2018, 2019, 2020, 2021), dan Anggota Dewan Kebudayaan DIY (2020-2023). Memiliki program #SUWARNOBICARA yang berisi paparan ringkas proses kreatif para seniman/perupa, dapat diikuti pada channel YouTube dengan link bit.ly/35fd9ee.

Rizki A. Zaelani
Lahir di Bandung, 27 Desember 1965. Menempuh pendidikan Seni Rupa – Fakultas Seni Rupa & Desain ITB (1992; 2016). Mengikuti Workshop Kekuratoran COCI ASEAN & Asia Link – Australia, Kuala Lumpur (1995); Workshop Kekuratoran The Japan Foundation, Jakarta (1997); Residensi Kekuratoran, Toshio Shimizu – Independent Curator Office, Tokyo (1998); dan Residensi Kekuratoran, Fukuoka Asian Art Museum, Fukuoka (1999). Merupakan Kurator Galeri Soemardja FSRD ITB (1992-1997); Kurator Penasihat Selasar Sunaryo, Bandung (2005-2013); bergabung bersama Jim Supangkat dalam Independent Curator Office, Jakarta (1997-2005); serta anggota Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2008 – sekarang).

Hingga saat ini aktif dalam berbagai proyek kuratorial pameran, nasional dan internasional: Pameran Tunggal Sudjana Kerton, Ahmad Sadali, G. Sidharta Soegijo, Barli Sasmitawinata, Anusapati, Teguh Ostenrik, Tisna Sanjaya, Nyoman Erawan, FX Harsono, Nindity Adipurnomo, dsb; BAE’s Bandung Biennale (2001), Art Summit Indonesia (2004), Jakarta Biennale (2006), MANIFESTO-Galeri Nasional Indonesia (2008, 2010, 2012, 2014, 2016, 2020), Jakarta International Photo Summit (2011, 2014), “Doppio Sogno dell’Arte. 2RC tra artista e artefice”, Jakarta-Bandung-Yogyakarta-Bali (2010), proyek pameran internasional Galeri Nasional Indonesia di Malaysia (2007), Filipina (2009), Thailand (2008), Vietnam (2010), Aljazair (2011), Myanmar (2012), USA (2013), Australia (2014), Jerman (2015), Pameran Seni Rupa, dsb.

Pengelola kegiatan tahunan “Seminar Estetik – Galeri Nasional Indonesia (2015-2018), (2018); Seminar Sejarah Seni Rupa Indonesia (2018); ART VERSES: Workshop Apreasiasi Seni untuk Publik, Bandung Connex – Orbital DAGO (2018).

Asikin Hasan
Lahir di Jambi, lulusan Jurusan Seni (Patung) Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Sempat mengikuti workshop kurator di sejumlah museum: Tokyo, Hiroshima, Kyoto, dan Fukuoka (1999). Ia membuat penelitian tentang Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia; menulis tentang pematung G. Sidharta Soegijo pada Art and Asia Pacific (jurnal seni rupa di Australia); menulis resensi pameran seni rupa di Harian Umum KOMPAS, The Jakarta Post, Tempo, serta Jurnal Visual Arts dan C Arts.

Pernah menjadi wartawan Majalah Berita Mingguan TEMPO untuk Biro Jawa Barat (1991—1994); Kurator Galeri Lontar (kini Galeri Salihara, Komunitas Salihara, Jakarta) pada 1996—sekarang; pengamat ARS-01, Pameran Seni Kontemporer Internasional KIASMA, Helsinki, Finlandia (2001); dan Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia (2013—sekarang). Ia juga menjadi kurator dalam sejumlah pameran dalam skala nasional dan internasional.

Budi Adi Nugroho
Lahir di Pare-Pare, Indonesia. Menyelesaikan program Sarjana (2005) dan Master (2009) di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Menyelesaikan program Doktoral (2020) pada almamaternya setelah bergabung menjadi staf pengajar sejak 2012. Dikenal sebagai seniman yang memiliki ketertarikan pada hubungan karya dan pengamatnya, hingga menjadi topik utama pada penelitian berbasis kekaryaan yang mengolah data metode penciptaan karya seni di ruang publik. Telah berpameran tunggal di Ciburial, Bandung (2007); Ambiente Gallery, Jakarta (2011) dan Platform 3, Bandung (2017). Telah menjalani beberapa proyek residensi di ZK/U, Berlin, Jerman (2014); Ashiya Gallery, Fukuoka, Jepang (2016); MIA, Kuala Lumpur, Malaysia (2017); dan Ichihanari Project di Okinawa, Jepang (2017). Telah beberapa kali masuk nominasi seni seperti Indonesia Art Award (2008 dan 2013) serta Bandung Contemporary Art Award (2014).

About eddy Purwanto

Check Also

Trooper Costum, Hadirkan Sentuhan Craft di Jalanan

Inovasi, layaknya sebuah mantra yang terus diucapkan para pelaku usaha, khususnya UMKM dalam menanggapi perubahan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *