Home / Review / Saatnya Menjadi Pengusaha
Beautiful vintage chair and a plant against the background a turquoise wall

Saatnya Menjadi Pengusaha

Buku “Saatnya Menjadi Pengusaha” ini ditulis berangkat dari kegelisahan kenapa tidak kaya. Dari sini muncul keinginan untuk menjadi kaya. Kaya hanya bisa diperoleh melalui berbisnis. Dari sinilah M. Iqbal Dawami menulis buku ini dan terus mengalir menjadi buku yang tebal. Inti tulisan dari buku ini adalah memotivasi pembaca untuk cepat menjadi pengusaha.

M. Iqbal Dawami adalah penulis, editor, dan trainer kepenulisan. Alumnus dari SDN Cijakan II Bojong-Pandeglang, MTs Mathla’ul Anwar Bojong-Pandeglang, MAK Darussalam-Ciamis, Pondok Pesantren Darussalam-Ciamis, Fakultas Bahasa dan Sastra Arab (S-1) IAIN Sunan Kalijaga-Yogyakarta, dan Studi Al-Quran-Hadis (S-2) UIN Sunan Kalijaga-Yogyakarta. Pelbagai karya tulisnya pernah dimuat di media massa nasional, antara lain Jawa Pos, Media Indonesia, Republika, Koran Sindo, Koran Jakarta, Majalah SWA, Majalah BASIS, Majalah National Geographic, Majalah Tebuireng, dan lain-lain.

Selain penulis, M. Iqbal Dawami juga menjadi editor freelance di pelbagai penerbit nasional, antara lain Mizan Pustaka, Bentang Pustaka, Alvabet, Noura Books, Quanta, Qultum Media, Citra Media, Zaman, Pustaka Tebuireng, dan lain-lain.



Menurut Iqbal Dawami, dasar utama untuk berubah, dalam hal ini dari seorang pegawai menjadi pengusaha, adalah perubahan mendasar di pola pikir. Hal ini diilustrasikan dengan paragraf yang bercerita tentang bagaimana pemimpin China modern Deng Xiaping mengatakan bahwa “Menjadi Kaya itu Mulia”.

Sementara, rezim yang  sebelumnya sangat menabukan pengucapan hal ini karena menurut mereka, komunisme dan sosialisme dicirikan dengan kemiskinan orang-orang di Negara yang menganut faham ini. Petuah “Menjadi Kaya itu Mulia” benar-benar menginspirasi seluruh rakyat China untuk berkembang dan menjadi modern demi mendapatkan kekayaan. Mereka semua terdorong untuk segera bangkit dan mendayagunakan potensi, keahlian secara optimal terutama dalam bidang ekonomi agar bisa tumbuh, maju dan hidup sejahtera. Maka bermunculanlah banyak perusahaan yang bargaya kapitalis yang menjadi lokomotif bagi modernisasi ekonomi China.

Bila ada pertanyaan apakah beda antara pedagang dan pengusaha? Secara sederhana perbedaannya adalah pedagang menuntut kehadiran dirinya untuk menjalankan bisnisnya, sementara pengusaha dapat menjalankan bisnisnya tanpa mengharuskan kehadiran dirinya. Pedagang bersifat shorter hanya berfokus pada penghasilannya hari ini saja, sedangkan pengusaha haruslah mempunyai visi, apa yang ia harapkan di kemudian hari.* Ahmad Jauhari

About eddy Purwanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: