Sentuhan Kreatifitas Anyaman Daun Lontar

Melalui sentuhan kreatifitas produksi kerajinan anyaman daun lontar dapat mendorong perempuan NTT melakukan pelestarian kearifan lokal serta meningkatkan taraf hidupnya.

Kerajinan anyaman daun lontar merupakan kerajinan tradisional dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjadi bagian dari budaya Indonesia. Selain bahannya merupakan serat alami, produk turunan dari anyaman daun lontar juga sangat banyak bervariasi.

Kemampuan menganyam daun lontar para perempuan NTT diperoleh secara turun-temurun. NTT memang merupakan salah satu daerah yang penduduknya memiliki kemahiran dalam menganyam daun lontar. Namun sayang kerajinan ini sempat terlupakan dan hanya para perempuan paruh baya yang memiliki kemampuan menganyam.

Pada 2015, kerajinan menganyam daun lontar kembali dibangkitkan oleh Hana Keraf dan kawan-kawan dengan mendirikan organisasi Du’Anyam di Flores, NTT. Du’ Anyam adalah sebuah kewirausahaan sosial yang mengusung peran aktif dalam mengatasi masalah kesehatan ibu dan anak yang terjadi di NTT. Melalui sentuhan kreatifitas Du’Anyam, Hanna dan teman-temannya menggandeng para perempuan di daerah NTT untuk menganyam daun lontar sebagai satu alternatif pendapatan tambahan dari sekadar berladang.



Du’Anyam memang serius menciptakan produk berkualitas dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Meski tergolong bisnis sosial yang masih muda, namun Du’Anyam kini telah memiliki sekitar 300 perempuan penganyam dari 16 desa di NTT. Tentunya, angka tersebut merupakan hasil kerja keras mereka selama 4 tahun terakhir.

Melalui anyaman daun lontar, kini para perempuan NTT memiliki pendapatan lebih selain berkeringat sebagai petani di ladang pertanian. Di sela waktu bertani, atau dalam kondisi mengandung, mereka dapat menganyam dan memperoleh penghasilan.

Pada awalnya, Du’Anyam hanya memiliki 16 pengrajin anyaman, kini semakin banyak perempuan muda yang bergabung hingga mencapai sekitar 300 penganyam daun lontar. Menurut Hanna Keraf, para perempuan yang sebelumnya hanya bertani dengan pendapatan per tahun sekitar Rp6-8 juta, kini mereka memperoleh penghasilan tambahan hingga mencapai Rp200 ribu per minggu.

Pemberdayaan perempuan bukan hanya tentang peningkatan ekonomi, tetapi tentang memberi nilai terhadap buah karya tangan perempuan. Sebagai salah satu upaya pelestarian kearifan lokal melalui kerajinan tangan anyaman, Du’Anyam mendorong peningkatan taraf hidup masyarakat melalui tradisi menganyam.

Kerja keras Du’Anyam dalam memberdayakan kaum perempuan melalui kreatifitas anyaman serat alami telah membuahkan sejumlah penghargaan dari institusi ternama dalam negeri maupun mancanegara. Pada 2018, Du’Anyam memperoleh 2 penghargaan Inacraft Award Category Natural Fiber, yaitu Juara 1 untuk Produk Anyaman Noken Kulit Kayu dari Nabire, Papua, dan Juara 2 untuk Produk Sobe Handle Bamboo dari Flores Timur, NTT. (Ahmad Jauhari)

About eddy Purwanto

Check Also

Target 750 Startup Digital Tumbuh di Indonesia

Pemerintah menargetkan bisa menumbuhkan 750 wirausaha baru berbasis teknologi informasi, atau startup digital setiap tahun. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: