Home / Art / Songket Warna Alami Makin Diminati

Songket Warna Alami Makin Diminati

Makin banyak perajin kain songket yang menggunakan warna alami karena memang lebih menguntungkan dan lebih ramah lingkungan. Salah satunya Meiky Songket yang memulai usaha kain songket sejak tahun 2008 di Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Sejak tahun 2012, Meiky mulai memproduksi songket warna alami hasil pelatihan dari kerja sama antara BNI dan Cita Tenun Indonesia (CTI).

Sejak 2017, Meiky memutuskan untuk konsisten menggunakan pewarna alami untuk semua produk kain songket dan kain jumputan yang dihasilkannya. Meiky memasarkan produk kain songketnya dengan brand Songket Limar Pewarna Alami dan Galeri Songket Warna Alam.

Proses produksi kain songket menggunakan pewarna alami memang membutuhkan waktu lebih lama dan lebih rumit, tetapi ada keunikan tersendiri untuk warna alami. Menurut Meiky, penggunaan pewarna alami lebih ramah lingkungan serta bisa didaur ulang, baik bahan pewarnanya maupun limbah air warnanya masih bisa digunakan lagi sehingga tidak mencemari lingkungan.

Selain itu, produksi kain songket menggunakan pewarna alami juga lebih mengntungkan. “Produksi kain songket dengan warna alami lebih menguntungkan dari segi limbahnya. Limbahnya bisa dimanfaatkan lagi sehingga limbahnya lebih sedikit. Untuk limbah warnanya masih bisa digunakan untuk pewarnaan sehingga lebih menghemat biaya produksi,” ungkap Meiky.



Kain songket warna alami kini makin banyak peminatnya baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bagi para pecinta kain songket, penggunaan warna alami merupakan sesuatu yang baru dan lebih fleksibel untuk penggunaannya. Kain songket warna alami tidak hanya untuk keperluan adat tetapi juga untuk keperluan fashion dan hiasan interior.

“Untuk konsumen luar negri justru mereka lebih menghargai produk yang alami dan warnanya yang sangat bersahabat dengan warna trend internasional,” tegas Meiky.
Meiky bisa memproduksi kain songket warna alami sebanyak 20-30 stel per bulan. Meiky memulai usaha dengan menggunakan dua alat tenun dan kini banyak perajin di sekitarnya yang ikut bergabung dalam kelompok yang dibentuknya.

Untuk proses produksi tenun kain songket warna alam dimulai dari pemilihan bahan baku, yaitu kain sutra, cotton dan spunsilk. Kemudian dilakukan proses pewarnaan benang dengan menggunakan pewarna alami, yakni indigo (indigofiera tinctoria) untuk warna biru, tingi (mangrove) warna terakota, daun jambu biji (abu-abu, cream), daun mangga (kuning, hijau), limbah kulit jengkol (cream, abu muda), lumpur (mocca), buah pinang (cokelat), daun Ketapang (dark grey), daun jati (ungu), jolawe, kayu secang, dan lain-lain.

Menurut Meiky, setelah pewarnaan benang kemudian mulai proses penenunan selama 1-3 bulan, bahkan ada yang proses penenunan selama 4 bulan untuk 1 set kain dan selendang. Lamanya proses penenunan tergantung pada tingkat kerumitan dan kehalusan benangnya.

Produk kain songket warna alami yang dihasilkan para perajin di Indralaya sudah diekspor ke pasar luar negeri. Selain dapat tetap melestasikan kekayaan budaya dan tradisi songket Sumatera Selatan, usaha ini juga memberikan keuntungan kepada para perajin. (Ahmad Jauhari)

About eddy Purwanto

Check Also

Kerjasama Antar Lembaga Penting Bagi Kemajuan ASEPHI

Sebagai wadah perajin dan pengusaha produk kratif kerajinan Indonesia, maka sudah saatnya ASEPHI bekerja lebih …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: