Home / Headlines / Speaker Bambu Menembus Pasar Dunia

Speaker Bambu Menembus Pasar Dunia

Satu lagi produk kerajinan berkelas dunia yang terbuat dari bambu. Rosyid Akhmadi, berhasil ‘menyulap’ bambu menjadi alat pengeras suara tanpa listrik atau acoustic speaker. Produk kerajinan buah karya perajin asal Bandung ini, ternyata sudah dilirik produsen dari Negeri Sakura dan diminati pasar internasional.

Nama Ros, pria lulusan Desain Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, menjadi tenar, sejak loud speaker yang ramah lingkungan buatannya, menang dalam ajang pameran kerajinan berkelas dunia yakni Inacraft Fair2018.

Di Inacraft Fair tersebut, produk pengeras suara tanpa listrik itu meraih juara pertama untuk kategori Emerging Award. Dia memperoleh penghargaan dari Kementerian Perindustrian dan Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi). “Kami memiliki konsep eco friendly environment and sustainable material design. Kami semuanya menggunakan material alam. Power less,” kata Ros.

Menurut Ros, acoustic speaker tersebut dibuat dengan sedemikian rupa menggunakan perhitungan yang sangat matang, dan dikalkulasi secara detail. Meski bentuknya sederhana, namun pengeras suara dari bambu itu dibuat menggunakan dasar-dasar hitungan fisika dan ilmu tentang audio. “Jadi saya ingin membuat produk wajah baru kerajinan Indonesia yang memiliki value tinggi,” ucap CEO dari Mohoi Bamboogoods itu.

Acoustic speaker buatan Ros tak hanya membuat kagum para pencinta industri kerajinan di dalam negeri, namun juga diminati oleh warga di berbagai negara. Termasuk beberapa negara Eropa, seperti, Italia, Denmark, dan Amerika Serikat.



roduk speaker tanpa listrik buatan dari Mohoi Bamboogoods ini, sudah dikirim ke Jepang dan Korea Selatan, sebanyak 200 unit untuk dijadikan sampel. Bahkan di Jepang, acoustic speaker dari bambu sudah dipasarkan di sebuah gerai peralatan elektronik kecil, di Kobe.

Menurut Ros, acoustic speaker ini dibuat untuk menggaet kaum milenial yang ingin serba cepat. Dengan desain sederhana dan mudah dibawa ke mana-mana, acoustic speaker tersebut bisa digunakan untuk pengeras suara ponsel tanpa perlu listrik sama sekali.

Dalam mendesain sebuah produk, Ros tak hanya melulu soal teknologi. Meski di era milenial, menurutnya, harus tetap memperhatikan alam. Sehingga tak menghasilkan banyak sampah. “Kalau kita pikir, misalnya speaker portable yang ada. Kalau sudah jelek dibuang, terus sampahnya bagaimana. Itu yang harus kita pikirkan,” ucapnya.

Karya yang dihasilkan oleh Ros pun tak hanya acoustic speaker, tetapi ada beberapa produk-produk lain seperti lampu kamar dari bambu, yang sudah menggunakan touch screen. Kemudian ada lagi peralatan di dapur yang menggunakan bambu. (Adyan Soeseno)

 

About eddy Purwanto

Check Also

Kerjasama Antar Lembaga Penting Bagi Kemajuan ASEPHI

Sebagai wadah perajin dan pengusaha produk kratif kerajinan Indonesia, maka sudah saatnya ASEPHI bekerja lebih …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: