Karya Astari Rasjid

“Terra (In)Cognita” Pameran Seni Rupa dalam Rangka Pekan Kebudayaan Nasional 2021

Galeri Nasional Indonesia kembali menyajikan kepada publik, sebuah gelaran seni rupa berkala dua tahunan yang menampilkan potensi, kreativitas, dan eksistensi para perupa Indonesia yaitu Pameran Seni Rupa Nusantara. Pameran ini diinisiasi dan diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia pertama kali pada 2001, kemudian 2002, 2005, 2007, 2009, 2011, 2013, 2015, 2017, dan 2019, dengan mengangkat tema yang berbeda. Tahun 2021 ini menjadi penyelenggaraan Pameran Seni Rupa Nusantara yang ke-11. Tema yang diangkat adalah “Terra (In)Cognita”.

Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto mengatakan, yang signifikan dari Pameran Seni Rupa Nusantara ke-11 ini adalah peralihan format pameran yang berdampak pada cara mempresentasikan karya dan cara mengapresiasi pameran. Pameran yang sama sebelumnya diselenggarakan secara luring di gedung Galeri Nasional Indonesia, dan kini dilaksanakan secara daring di laman https://galnasonline.id/. Selain itu, yang juga spesial dari pameran kali ini adalah kaitannya dengan perhelatan besar yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, yaitu Pekan Kebudayaan Nasional Indonesia (PKN) 2021 dengan tema “Cerlang Nusantara, Pandu Masa Depan” yang mengangkat potensi kearifan lokal akar ketahanan budaya dari sektor kebutuhan dasar manusia yaitu sandang, pangan, dan papan. Karena itu, tema pameran ini “Terra (In)Cognita” juga ditentukan dengan merespons kerangka besar PKN 2021.

Tim kurator pameran yaitu Citra Smara Dewi, Sudjud Dartanto, dan Teguh Margono merumuskan tema “Terra (In)Cognita” dengan mengambil istilah terra yang berarti tanah/kawasan, cognita yang bermakna yang dikenal, sisipan “in” di antara dua kata itu bermakna tanah/kawasan yang tak dikenal, dan yang juga dikenal. “Konteks itu sekaligus merupakan metafora atas imajinasi pada wilayah tanah/wilayah yang dikenal dan tak dikenal yang menumbuhkan produksi sandang, pangan, dan papan. Dengan mereferensikan seni sebagai sebuah ungkapan simbolik, maka pameran seni rupa ini merupakan sebuah tafsir kreatif dari perupa atas sejarah masa lalu yang tersusun dari berbagai memori kolektif dan memengaruhi konteks kekiniannya,” jelas Sudjud.

Faisal Kamandobat_Mandala Paladium


“Terra (In)Cognita” adalah usaha melihat nusantara dalam lanskap global, baik dari dalam (inside) maupun dari luar (outside), sehingga dari sana dapat diketahui nuansa kosmopolit materialitas berbagai kebudayaan di nusantara: ragam tenun, arsitektur, dan kulinernya. Dari “Terra (In)Cognita” kita juga dapat menyadari kedaulatan kita secara teritorial, lengkap dengan segala kekayaan alamnya sebagai daya dukung bagi kehidupan kita. Pada era sekarang, seluruh wilayah bumi telah diketahui (cognita) dan seluruh bangsa telah berjejaring bahkan saling bergantung. Sandang, pangan, dan papan bukan lagi semata kebutuhan primer kehidupan kita, bukan pula soal presentasi kreativitas kita mengolah kekayaan alam ke dalam berbagai produk budaya dan artistik, melainkan yang paling penting adalah menempatkan posisi kita dengan baik di tengah dunia.

Ditambahkan oleh Citra, bicara soal sandang, pangan, dan papan juga tentu tak lepas dari budaya dan sejarah bangsa Indonesia. Sandang, pangan, dan papan juga dapat bersifat politis tergantung dari sudut mana kita memaknainya. Aspek-aspek sosial, politik, ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan yang saling beririsan dan berbenturan, sebagai gagasan berkarya seniman tentu menjadi sangat menarik dibicarakan. “Dalam konteks inilah kita diajak untuk bersikap kritis dalam mengamati karya-karya yang ditampilkan pada Pameran Seni Rupa Nusantara. Nilai-nilai dan pesan moral yang tersirat pada gagasan seniman sekaligus merupakan permenungan dan sikap kontemplasi kita bersama, seberapa bijak kita menghargai sejarah masa lalu melalui jejak ‘sandang, pangan, dan papan’, untuk melangkah dan mengambil sikap ke depan yang jauh lebih baik dari hari ini,” ungkap Citra.

Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini meliputi karya dua dimensi, tiga dimensi berupa lukisan, seni grafis, fotografi, keramik, instalasi, dan seni media. Karya-karya tersebut menyandingkan karya para perupa muda maupun para perupa andal yang telah lama berkecimpung di dunia seni rupa dalam lingkup nasional maupun internasional, yang dijaring melalui hasil seleksi aplikasi terbuka (open call) dan undangan khusus. Pada sistem aplikasi terbuka, didapatkan 786 karya dari 708 seniman di berbagai wilayah di Indonesia dan mancanegara. Dari jumlah tersebut, 16 karya dari 16 peserta di 13 provinsi dinyatakan lolos seleksi sehingga berkesempatan menjadi peserta pameran. Ditambah dengan 10 karya dari 7 seniman undangan, maka secara keseluruhan, pameran ini menampilkan 26 karya dari 23 seniman Indonesia.

Melalui karya-karya dalam pameran ini, Pustanto berharap semoga Pameran Seni Rupa Nusantara 2021 “Terra (In)Cognita” ini dapat menjadi media untuk mempromosikan Indonesia melalui sajian visual yang artistik, tidak hanya yang terkait dengan sandang, pangan, dan papan yang ada dalam masyarakat Indonesia, namun juga keunikan karya seni rupa itu sendiri, serta kepiawaian para seniman Indonesia dalam berkarya. Semoga pameran ini juga dapat meramaikan PKN 2021 sekaligus mengukuhkan identitas Indonesia melalui kekayaan ragam karya seni rupa. Publik diharapkan dapat mengapresiasi, mendapatkan pengetahuan, memperoleh inspirasi, serta termotivasi untuk mengembangkan kreativitas yang dapat memunculkan aktivitas-aktivitas budaya khususnya seni rupa. “Hidupnya aktivitas seni rupa dalam masyarakat menyumbang pengembangan kebudayaan yang mampu mendorong pemajuan kebudayaan Indonesia,” kata Pustanto.

Pameran Seni Rupa Nusantara “Terra (In)Cognita” dalam rangka PKN 2021 akan dibuka pada Kamis, 18 November 2021, pukul 19.30 WIB melalui Zoom dan live YouTube Galeri Nasional Indonesia. Tautan Zoom: bit.ly/PameranNusantara-2021. Pameran dapat terus diakses di laman https://galnasonline.id/. Selain pameran, untuk mempertajam wacana juga akan digelar program publik yang dapat diikuti masyarakat umum.

About eddy Purwanto

Check Also

Ketika Dunia Seni Berjejaring dengan Dunia Lisensi dan NFT

Pada prakteknya, selama ini seniman telah melakukan lisensi secara tradisional. Dimana mereka diberi royalti berdasarkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *