Wistara, Batik Karya Difabel

Para penyandang disabilitas sibuk dengan mesin jahit masing-masing. Mereka tampak sangat terampil menjahit kain-kain batik Wistara untuk dijadikan sepotong pakaian. Suasana inilah yang terlihat di Galeri Wistara Batik milik Aryo Setiawan.

Pemilik Wistara Batik, Aryo Setiawan mengatakan, membuka usaha batik sejak 2010. Dengan jiwa sosialnya, ia mempekerjakan karyawan yang memiliki keterbatasan. Mereka diberi pelatihan, lalu diajak untuk terlibat dalam rumah produksi miliknya. Siapa sangka, mereka dapat menghasilkan karya berupa baju-baju batik.

Di rumah produksi yang terletak di kawasan Tambak Medokan Ayu, Surabaya, itu, Aryo mempekerjakan sepuluh karyawan. Mereka ditugaskan untuk membuat baju batik, mulai dari membuat pola, memotong, menjahit, mengemasnya, hingga siap dijual. Sejak mendirikan bisnis batik pada 2010, Aryo senang bisa memberikan kesempatan bagi kaum disabilitas karena mereka bisa mendapatkan peluang dan kesetaraan yang sama.

Setiap karyawannya dapat menghasilkan lima potong pakaian batik per harinya. Karya mereka diminati banyak pelanggan. Aryo pun selalu mempromosikan produknya. Meski dikerjakan oleh para penyandang disabilitas, hasil pekerjaan mereka tampak halus dan bagus. Tak jarang pula pelanggan yang awalnya tidak percaya jika yang menjahit batiknya ialah karyawan difabel.



Aryo mengaku, ia harus memperlakukan para karyawannya dengan ekstra sabar. Ia juga harus memahami bahasa mereka. Namun di balik kekurangan tersebut, mereka memiliki potensi yang tidak dimiliki oleh semua orang normal. Mereka lebih fokus dan pekerja keras. Kerja keras mereka pun perlahan mulai dirasakan. Produksi batiknya terus meningkat. Dari awalnya hanya puluhan potong per bulan, kini bisa mencapai ratusan potong per bulan.

Batik Wistara dikenal dengan corak warna yang cerah dan motif abstrak yang mengenang motif yang sudah ada. Motif yang digunakan ialah motif lawasan, misalnya dari motif mojopahit. Namun, untuk motif tidak ada pakem khusus sehingga Aryo menggabungkan berbagai motif. Ia menambahkan, batik yang dibuatnya lebih banyak batik tulis dan cap.

Wistara Batik tembus pasar global
Peminat batik Wistara tidak hanya datang dari beberapa kota di Indonesia, tetapi juga luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Amerika, dan Uganda. Batik produksi Wistara memang sudah memiliki pasar sendiri. Ini membuktikan bahwa karya mereka juga bisa diterima oleh masyarakat.

Harga kain yang dijualnya juga standar. Kain per potong dengan ukuran 2,5 meter dihargai mulai Rp150 ribu tergantung jenis batik tulis atau cap. Untuk batik tulis, harganya relatif lebih mahal. Pendapatan dari bisnis batik ini berkisar Rp50juta hingga Rp75 juta per bulan. Ini diukur dari penjualan untuk mancanegara. Sementara itu, penjualan di dalam negeri berkisar di bawah Rp50 juta sebulan.

Selain menjual produk secara konvensional di pameran-pameran dan galeri miliknya, Aryo juga memanfaatkan jejaring sosial baik Facebook maupun jejaring lainnya. Tidak ada impian besar lain di benaknya. Ia hanya ingin usahanya memperhatikan para difabel ini dapat menjadi contoh bagi pengusaha lainnya. (Achmad Ichsan)

About eddy Purwanto

Check Also

Nyaman Bersantai #DIRUMAHAJA

Menyambut Lebaran tahun ini di tengah pandemi Covid-19, Seken Living menawarkan desain dan ide suasana …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: